London (Tutur.co.id) – Berakhirnya Piala Dunia 2026 menandai dimulainya babak baru bagi banyak tim nasional dalam mempersiapkan siklus turnamen berikutnya. Sejumlah federasi diperkirakan melakukan perubahan besar, termasuk pergantian pelatih. Namun, situasi berbeda justru terjadi di Timnas Inggris.
Meski mendapat gelombang kritik setelah gagal membawa The Three Lions melaju ke final Piala Dunia 2026, Thomas Tuchel diyakini masih akan tetap memimpin Inggris.
Pelatih asal Jerman itu sebelumnya telah menandatangani perpanjangan kontrak pada Februari lalu yang membuatnya terikat hingga Euro 2028. Selain mendapat dukungan dari mayoritas pemain, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) juga belum menunjukkan tanda-tanda ingin mengakhiri kerja sama dengan mantan pelatih Chelsea tersebut.
Inggris Melaju Jauh, tetapi Permainannya Tak Meyakinkan
Di atas kertas, Inggris mencatat hasil terbaik kedua mereka sepanjang sejarah Piala Dunia dengan mencapai babak semifinal. Namun, perjalanan tersebut dinilai tidak mencerminkan kualitas permainan yang konsisten.
Sepanjang turnamen, Inggris nyaris tidak pernah benar-benar mendominasi lawan. Mereka lebih sering lolos berkat efisiensi, keberuntungan, atau momen-momen individu dibandingkan permainan yang benar-benar meyakinkan.
Pada fase grup, misalnya, Inggris bermain imbang 0-0 melawan Ghana dalam laga yang diwarnai sejumlah keputusan kontroversial. Kiper Jordan Pickford lolos dari kartu merah setelah bertabrakan dengan Prince Adu, sementara Inggris juga diuntungkan ketika Ghana tidak mendapat penalti usai tekel Ezri Konsa.
Kesulitan berlanjut di babak 32 besar. Inggris sempat tertinggal sebelum akhirnya menang 2-1 atas Republik Demokratik Kongo berkat dua gol telat Harry Kane. Padahal, lawannya sempat membuang peluang emas untuk menggandakan keunggulan.
Di babak 16 besar, Inggris kembali dipaksa bekerja keras saat mengalahkan Meksiko 3-2. Penampilan gemilang Jude Bellingham menjadi faktor penting dalam kemenangan tersebut.
Performa serupa juga terlihat saat menyingkirkan Norwegia 2-1 di perempat final. Gol penyama kedudukan Inggris sempat memicu perdebatan karena bola diduga mengenai kabel kamera sebelum terciptanya gol, sementara satu gol Norwegia dianulir dalam situasi yang juga menuai kontroversi.
Taktik Tuchel Jadi Sasaran Kritik
Perjalanan Inggris akhirnya terhenti di semifinal setelah kalah dramatis 1-2 dari Argentina. Inggris sempat unggul lewat gol Anthony Gordon, tetapi memilih bermain semakin bertahan setelah memimpin. Keputusan itu justru menjadi bumerang.
Sejak menit ke-55 hingga gol kemenangan Lautaro Martinez pada masa injury time, Inggris hanya mampu mencatat rata-rata 12 persen penguasaan bola.
Tuchel juga mengubah formasi menjadi lima bek dan melakukan sejumlah pergantian pemain yang lebih berorientasi bertahan. Alih-alih membuat pertahanan semakin kokoh, strategi tersebut justru memberi ruang bagi Argentina untuk terus menekan.
Pada akhirnya, Lionel Messi menciptakan dua assist yang mengantar Argentina membalikkan keadaan sekaligus menyingkirkan Inggris dari Piala Dunia. Banyak pengamat menilai pendekatan Tuchel yang terlalu defensif menjadi salah satu penyebab utama kegagalan Inggris melangkah ke final.
Meski demikian, pelatih berusia 52 tahun itu masih memiliki kesempatan memperbaiki citranya. Jika mampu mengakhiri puasa gelar Inggris yang telah berlangsung lebih dari enam dekade, kritik yang diterimanya diyakini akan mereda.
Tantangan Inggris Semakin Berat
Jalan Inggris menuju gelar pada turnamen-turnamen berikutnya diperkirakan akan semakin sulit. Di Euro 2028, mereka harus bersaing dengan Spanyol yang baru saja menjadi juara dunia, serta menghadapi kebangkitan Jerman dan Prancis.
Jerman diperkirakan akan memasuki era baru setelah Julian Nagelsmann mengundurkan diri menyusul kegagalan di Piala Dunia 2026. Mantan pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, disebut-sebut menjadi kandidat kuat untuk mengambil alih kursi pelatih Die Mannschaft.
Sementara itu, Didier Deschamps juga telah mengakhiri masa baktinya bersama Prancis. Posisi tersebut diyakini akan diisi oleh legenda Les Bleus, Zinedine Zidane, yang diharapkan membawa wajah baru bagi tim nasional Prancis.
Dengan kekuatan para rival yang terus berkembang, Inggris dituntut menemukan cara untuk mengakhiri tren buruk mereka saat menghadapi tim-tim elite dunia. Meski begitu, kemenangan 6-4 atas Prancis pada perebutan tempat ketiga dinilai Tuchel sebagai modal penting dari sisi mental menjelang agenda internasional berikutnya.
Ujian Berikutnya Sudah Menanti
Timnas Inggris akan kembali beraksi pada jeda internasional September dan Oktober dalam ajang UEFA Nations League A. Laga yang paling dinantikan adalah duel menghadapi Spanyol pada 29 September, yang sekaligus menjadi kesempatan bagi Tuchel untuk membuktikan bahwa timnya mampu belajar dari kegagalan di Piala Dunia.
Setelah itu, Inggris juga dijadwalkan menghadapi Republik Ceko dan Kroasia. Penampilan pada tiga pertandingan tersebut diperkirakan akan menjadi tolok ukur pertama untuk menilai apakah Tuchel berhasil melakukan perbaikan setelah Piala Dunia 2026.
Tantangan terbesar berikutnya adalah Euro 2028, yang akan digelar di Inggris, Irlandia, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara. Bermain sebagai tuan rumah membuat ekspektasi publik akan jauh lebih tinggi. Apabila kembali gagal meraih gelar di depan pendukung sendiri, posisi Thomas Tuchel hampir dipastikan akan berada dalam tekanan besar.

