Jakarta (tutur.co.id) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tampaknya tak pernah berhenti menjadi sorotan. Kini kasus keracunan MBG kembali terjadi di beberapa daerah. Yang terbaru, keracunan MBG terjadi di Sekolah Dasar (SD) di Blora dan SMP di Wates Kulon Progo.
Untuk kasus di SDN Sendangrejo, Blora, Jawa Tengah, sebanyak 19 siswa mengalami mual, pusing hingga muntah-muntah setelah menyantap paket menu MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat pada Senin 20 Juli 2026 kemarin. Bahkan lima di antaranya sempat mengalami sesak napas dan dirawat intensif.
“Sebenarnya saat ada laporan salah satu ompreng itu diduga bau dan tekstur warnanya juga berbeda itu sebenarnya sudah kami stop. Tapi mungkin karena anak-anak ada yang terlanjur Sebagian minum susu dan sebagian makan, baru muncul efek-efek itu,” kata salah seorang guru dari SDN Sendangrejo.
Pihak kepolisian Polres Blora kini tengah mengusut kasus ini dengan memeriksa pihak sekolah dan pengelola dapur, serta mengamankan barang bukti berupa kemasan susu yang dilaporkan kembung dan meledak sebelum dikonsumsi.
Beralih ke Yogyakarta, 150 siswa di SMPN 3 Wates dilaporkan mendadak mengalami gejala mual dan diare massal usai menyantap sajian lauk ayam pada paket MBG yang dibagikan sekolah pada Senin kemarin. Bahkan sebanyak 27 siswa harus dilarikan dengan ambulance ke Puskesmas Wates.
Peristiwa di Blora dan Kulon Progo melengkapi daftar panjang insiden serupa yang sebelumnya pernah melanda daerah-daerah lain. Rentetan insiden keamanan pangan ini memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan, termasuk organisasi masyarakat dan aliansi pemerhati pendidikan.
Aliansi Ibu Indonesia menyoroti masalah ini dalam forum rapat dengar pendapat, mempertanyakan efektivitas mekanisme ganti rugi, kompensasi medis, serta penjaminan mutu makanan oleh pihak penyedia (SPPG).
Respon BGN
Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri telah menerjunkan tim investigasi lapangan untuk mengusut tuntas pemicu utama keracunan di beberapa daerah itu. BGN bekerja sama dengan pihak kepolisian, BPOM, dan Dinas Kesehatan juga tengah menguji sampel makanan, seperti kemasan susu di Blora dan lauk ayam di Kulon Progo.
Tak hanya itu, BGN juga menghentikan sementara operasional Dapur Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyuplai sekolah-sekolah terdampak. Lalu juga melakukan evaluasi mulai dari sanitasi, kebersihan serta kesehatan para juru masak. Prosedur Quality Control (QC) diperketat dan melakukan penilaian kelayakan tempat penyimpanan (storage) serta waktu tempuh pengiriman makanan dari dapur ke sekolah agar makanan tidak membusuk atau terkontaminasi di jalan.
BGN kembali menegaskan akan memperketat regulasi pengawasan makanan di seluruh wilayah. BGN juga mendorong skema uji sampel makanan (food sampling) wajib oleh pengelola dapur beberapa saat sebelum dibagikan kepada para siswa untuk memastikan keamanan konsumsi.
Yang terakhir, di luar kasus keracunan, BGN juga merespons isu tata kelola program secara luas. BGN saat ini tengah menyisir ulang data 62,7 juta penerima manfaat MBG untuk mengeliminasi indikasi data ganda serta memastikan pendistribusian makanan lebih terukur, tepat sasaran, dan mudah diawasi kualitasnya.

