New Jersey (Tutur.co.id) – Perjalanan luar biasa Lionel Messi bersama Argentina di Piala Dunia 2026 harus berakhir dengan cara yang paling menyakitkan. Setelah tampil gemilang sepanjang turnamen dan membawa La Albiceleste kembali ke final, Sang Kapten justru menjalani penampilan paling mengecewakan saat menghadapi Spanyol.
Argentina memang hanya kalah 0-1 lewat gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu. Namun, skor tipis tersebut tidak mencerminkan jalannya pertandingan. Spanyol mendominasi sejak menit pertama hingga peluit akhir, sementara Messi dan rekan-rekannya nyaris tidak mampu memberikan ancaman berarti.
Bahkan, Argentina gagal melepaskan satu pun tembakan sepanjang waktu normal dan baru mencatatkan percobaan pertama setelah tertinggal pada babak tambahan waktu. Bagi Lionel Messi, final ini menjadi kontras dengan performa impresif yang ia tampilkan sepanjang kompetisi.
Final Terburuk Lionel Messi di Piala Dunia 2026
Sepanjang turnamen, Messi tampil sebagai motor permainan Argentina. Ia membawa timnya melewati fase gugur yang penuh tekanan, mencetak lebih banyak gol dibandingkan saat menjuarai Piala Dunia 2022, sekaligus memecahkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.
Namun, semua pencapaian itu seakan menghilang di laga final. Spanyol berhasil memutus aliran bola menuju Messi dan membatasi ruang geraknya sepanjang pertandingan. Sang kapten kesulitan menciptakan peluang maupun menghubungkan permainan, membuat lini serang Argentina kehilangan kreativitas.
Sepanjang hampir dua jam pertandingan, Argentina bahkan tidak mampu menguji kiper Spanyol. Statistik tersebut menggambarkan betapa efektifnya permainan La Roja dalam meredam pengaruh Messi.
Mengulang Kenangan Kelam Final Piala Dunia 1990
Tiga puluh enam tahun lalu, Argentina mencapai final setelah menyingkirkan Brasil di babak 16 besar. Di partai puncak, mereka menghadapi Jerman Barat yang tampil sangat dominan di Stadion Olimpico, Roma.
Saat itu Argentina datang sebagai juara bertahan dengan Diego Maradona sebagai ikon utama. Namun, di laga final mereka nyaris tidak mampu memberikan ancaman berarti.
Sepanjang pertandingan, Argentina hanya melepaskan satu tembakan, sementara Jerman Barat mencatatkan 23 percobaan sebelum akhirnya menang lewat penalti Andreas Brehme pada menit ke-85.
Maradona yang tampil luar biasa sepanjang Piala Dunia 1986 juga gagal memberikan pengaruh besar pada final 1990. Argentina bahkan harus mengakhiri pertandingan dengan sembilan pemain setelah Pedro Monzon dan Gustavo Dezotti menerima kartu merah.
Dominasi Spanyol Tak Tercermin dari Skor
Meski hanya menang 1-0, Spanyol tampil jauh lebih unggul di hampir semua aspek permainan. La Roja melepaskan 20 tembakan dengan nilai expected goals (xG) mencapai 1,94, angka yang menunjukkan mereka sebenarnya layak mencetak lebih dari satu gol.
Beberapa kali Spanyol terlihat terlalu sabar dalam membangun serangan. Mereka memilih mengalirkan bola lebih lama atau menunggu ruang benar-benar terbuka sebelum melepaskan tembakan. Gol Ferran Torres pada menit ke-106 akhirnya menjadi pembeda sekaligus memastikan Spanyol keluar sebagai juara Piala Dunia 2026.
Bagi Argentina, kekalahan ini bukan sekadar kegagalan mempertahankan gelar. Final di MetLife akan dikenang sebagai pertandingan ketika Lionel Messi tidak mampu menghadirkan pengaruh seperti biasanya, sekaligus menjadi penampilan paling sulitnya sepanjang perjalanan di Piala Dunia 2026.

