Washington (tutur.co.id) – Drama terjadi di Ruang Oval Gedung Putih saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membentak seorang reporter Wanita, Selasa 21 Juli 2026. Trump kebakaran jenggot saat mendapat pertanyaan menohok dari sang reporter.
Ekskalasi konflik antara AS dan Iran dalam beberapa hari terakhir memang kembali sukses menyedot perhatian dunia. Aksi saling berbalas serangan dilakukan kedua kubu yang berseteru dan Iran tampaknya masih jauh dari kata ‘menyerah’. Bahkan terbukti beberapa serangan balasan Iran dianggap ‘sukses’.
Hal itu pula yang mendasari sang reporter untuk bertanya ke Donald Trump. “Tuan Presiden, tidak ada tanda-tanda bahwa Iran siap untuk berhenti berperang, jadi apa rencana selanjutnya?” tanya jurnalis itu kepada Trump.
Pertanyaan ini langsung membuat Trump naik pitam dan langsung menghardik sang reporter yang dianggapnya ‘sok tahu’.
“Bagaimana Anda tahu jika tidak ada tanda-tanda (Iran mau berhenti berperang)? Apa Anda tahu sesuatu yang tidak saya ketahui?” jawab Trump dengan ketus.
Jurnalis itu tak mau kalah. Ia berargumen dengan fakta bahwa Iran saat ini masih terus aktif menyerang negara-negara sekutu AS di Timur Tengah. Trump sendiri kembali merespon dengan menuding sang reporter hanya mengandalkan media-media ‘palsu’.
“Anda tidak tahu apa yang terjadi di balik layar, bahwa mereka sangat ingin bertemu untuk mencoba mengakhiri perang karena mereka sedang dalam kehancuran,” kata Trump.
“Anda tidak mendapatkan informasi itu ketika Anda mendengarkan stasiun palsu Anda, tetapi Anda tidak tahu, Anda tidak tahu apa-apa. Apakah Anda tahu sesuatu yang tidak saya ketahui? Apakah Anda tahu sesuatu yang tidak saya ketahui?” tambahnya.
Wartawan itu kemudian dengan blak-blakan meminta kepada presiden untuk memberi tahunya, “Baiklah, beri tahu kami!”. Yang langsung dijawab Trump,”Saya akan memberi tahu Anda bahwa mereka sangat ingin bertemu dan sampai mereka siap untuk bertemu secara serius, kami tidak tertarik.”
Sebagai catatan, perang AS melawan Iran saat ini telah memicu kekhawatiran akan lonjakan harga minyak yang kembali terjadi, serta potensi kekurangan barang.
Kekhawatiran itu semakin diperparah setelah organisasi militer Yaman yang dikenal sebagai Houthi mengumumkan juga melakukan blokade maritim baru terhadap Arab Saudi, sekutu penting AS di kawasan itu, sebuah langkah yang dapat membahayakan arus jutaan barel minyak.

