Jakarta (tutur.co.id)– Hantavirus menjadi salah satu penyakit zoonosis yang perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan gejala mulai dari ringan hingga berat. Virus ini umumnya menular melalui paparan urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Gejalanya pun kerap menyerupai penyakit lain seperti influenza, dengue, leptospirosis, hingga tifoid sehingga tidak jarang sulit dikenali pada tahap awal.
Guru Besar dan Ahli Virologi Universitas Udayana, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Mahardika, mengingatkan bahwa ancaman terbesar hantavirus justru bisa berasal dari kasus yang tidak terdeteksi.
Baca juga: Ini 4 Strain Hantavirus Utama yang Beredar di Dunia
“Dalam epidemiologi, fase senyap seperti ini justru sering menjadi bagian paling berbahaya karena virus berkembang di bawah radar pengawasan kesehatan,” tulis I Gusti Ngurah Mahardika dalam artikel opini Hantavirus dan Bayang-Bayang Pandemi Baru.
Berikut tiga kelompok gejala hantavirus yang perlu dikenali:
Gejala Umum, Mirip Flu pada Tahap Awal
Pada tahap awal, gejala hantavirus biasanya muncul sekitar 1 hingga 8 minggu setelah seseorang terpapar virus. Keluhannya sering menyerupai flu biasa sehingga kerap diabaikan.
Beberapa gejala umum yang sering muncul antara lain:
• Demam tinggi mendadak
• Sakit kepala berat
• Nyeri otot
• Tubuh sangat lemas
• Menggigil
• Mual dan muntah
• Nyeri punggung
• Nyeri perut hingga diare
Karena gejalanya mirip banyak penyakit tropis lain, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan terutama bila seseorang memiliki riwayat kontak dengan lingkungan yang banyak tikus.
Gejala Gangguan Ginjal, Bisa Disertai Perdarahan
Pada sebagian kasus, hantavirus dapat berkembang menjadi gangguan ginjal atau dikenal sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
Gejala ini biasanya muncul beberapa hari setelah fase awal dan dapat ditandai dengan:
• Mata merah
• Bintik merah atau perdarahan kecil pada kulit
• Protein dalam urine
• Darah dalam urine
• Trombosit menurun dan mudah memar
• Tekanan darah turun
• Bengkak pada tubuh
• Penurunan fungsi ginjal
Kondisi ini memerlukan penanganan medis karena dapat berkembang menjadi komplikasi serius bila terlambat ditangani.
Gejala Gangguan Paru, Bisa Berkembang Cepat
Selain menyerang ginjal, beberapa strain hantavirus juga dapat menyebabkan gangguan paru atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS/HCPS).
Gejala pada fase ini bisa berkembang cepat dan berat, seperti:
• Sesak napas yang semakin berat
• Batuk, umumnya batuk kering
• Dada terasa berat
• Penurunan kadar oksigen dalam darah
• Penumpukan cairan di paru-paru
• Gagal napas akut
Kondisi gangguan paru akibat hantavirus dapat berakibat fatal jika tidak segera mendapatkan perawatan intensif.
I Gusti Ngurah Mahardika juga mengingatkan bahwa dunia kesehatan perlu terus meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus dan penyakit zoonosis lain. “Dunia mulai menyadari bahwa banyak pandemi besar lahir dari virus yang pada awalnya dianggap terbatas dan lokal,” tulisnya.
Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari paparan tikus, serta menggunakan perlindungan saat membersihkan area berdebu menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko penularan hantavirus.

