London (Tutur.co.id) – Dunia sepak bola berduka. Legenda Inggris Kevin Keegan meninggal dunia pada usia 75 tahun setelah berjuang melawan kanker stadium empat.
Kabar duka tersebut diumumkan langsung oleh pihak keluarga melalui sebuah pernyataan resmi pada Senin (21/7/2026). Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa Keegan mengembuskan napas terakhirnya dengan didampingi istri dan kedua putrinya.
“Dengan kesedihan yang mendalam kami mengumumkan bahwa Kevin Keegan telah meninggal dunia pada usia 75 tahun. Kevin berjuang melawan kanker dan dikelilingi oleh istri serta putri-putrinya di saat-saat terakhir. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim medis yang telah memberikan perawatan terbaik,” tulis keluarga Keegan.
Berjuang Melawan Kanker Stadium Empat
Pada Januari lalu, Kevin Keegan mengungkapkan dirinya didiagnosis mengidap kanker stadium empat setelah menjalani perawatan akibat gangguan pada bagian perut.
Kanker stadium empat merupakan tahap paling lanjut, ketika sel kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Meski sempat menjalani pengobatan, kondisi mantan pemain dan pelatih Timnas Inggris tersebut terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia.
Salah Satu Legenda Terbesar Sepak Bola Inggris
Kevin Keegan dikenang sebagai salah satu pesepak bola terbaik yang pernah dimiliki Inggris. Selama karier profesionalnya yang berlangsung selama 17 tahun, ia membela sejumlah klub besar seperti Scunthorpe United, Liverpool, Hamburger SV, Southampton, hingga Newcastle United.
Keegan mencatat hampir 750 penampilan di level klub dan meraih berbagai gelar bergengsi.
Bersama Liverpool, ia memenangkan empat gelar Divisi Utama Liga Inggris, sementara ketika membela Hamburger SV di Jerman, Keegan meraih Ballon d’Or secara beruntun pada 1978 dan 1979, sebuah pencapaian langka yang mengukuhkan namanya sebagai salah satu pemain terbaik dunia pada masanya.
Sukses Sebagai Pelatih
Usai gantung sepatu, Keegan melanjutkan karier sebagai pelatih. Ia pernah menangani Newcastle United, Fulham, Timnas Inggris, hingga Manchester City. Pada 2008, Keegan kembali ke Newcastle untuk menjalani periode keduanya sebagai manajer The Magpies.
Kepemimpinannya di Newcastle dikenang karena menghadirkan permainan menyerang yang atraktif dan mampu membangkitkan optimisme para pendukung klub.
Salah satu momen paling ikonik dalam karier kepelatihannya terjadi pada musim Liga Inggris 1995/1996, ketika ia melontarkan pidato emosional yang melahirkan kutipan legendaris, “I will love it if we beat them”, sebagai respons terhadap perang psikologis dengan manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson.
Meski Newcastle akhirnya gagal mempertahankan keunggulan 12 poin dan kehilangan gelar liga, momen tersebut tetap dikenang sebagai salah satu adegan paling ikonik dalam sejarah Premier League.
Ucapan Duka Mengalir dari Dunia Sepak Bola
Federasi Sepak Bola Inggris (FA) menjadi salah satu pihak pertama yang menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Keegan. Dalam pernyataannya, FA mengenang Keegan sebagai sosok yang mencatat 63 penampilan dan 21 gol bersama Timnas Inggris pada periode 1972–1982, sebelum kembali mengabdi sebagai pelatih tim nasional pada 1999 hingga 2000.
“Kami sangat berduka atas kepergian Kevin Keegan. Pikiran dan doa kami bersama keluarga, sahabat, dan seluruh klub yang pernah ia bela,” tulis FA.
Newcastle: Jantung Klub Selama Beberapa Generasi
Newcastle United juga memberikan penghormatan khusus kepada sosok yang mereka sebut sebagai lebih dari sekadar pemain maupun pelatih. Dalam pernyataan resminya, klub menyebut Keegan sebagai “jantung Newcastle United bagi beberapa generasi pendukung.”
Menurut Newcastle, Keegan berhasil mengubah cara pandang banyak orang terhadap klub ketika masih menjadi pemain dan kemudian menghidupkan kembali semangat kota saat menjadi pelatih.
Klub juga memastikan akan mempertimbangkan bentuk penghormatan permanen untuk mengenang kehidupan dan warisan besar yang ditinggalkan Keegan.
Alan Shearer: Pahlawan, Pelatih, dan Sahabat
Legenda Newcastle sekaligus mantan kapten Timnas Inggris, Alan Shearer, turut menyampaikan penghormatan emosional melalui media sosial. Shearer pernah bermain di bawah asuhan Keegan, baik di Newcastle United maupun Timnas Inggris, sehingga hubungan keduanya dikenal sangat dekat.
“Pahlawanku. Pelatihku. Sahabatku. Beristirahatlah dengan tenang, Bos.”
Liverpool: Warisannya Akan Selalu Hidup
Liverpool FC juga menyampaikan rasa kehilangan atas wafatnya salah satu legenda terbesar klub. Dalam pernyataannya, The Reds menyebut semangat juang dan kontribusi Keegan akan selalu menjadi bagian dari sejarah klub.
Sebelum meninggal dunia, Keegan pernah mengungkapkan bahwa Liverpool memiliki arti yang sangat besar dalam hidupnya.
“Liverpool membentuk saya, bukan hanya sebagai pesepak bola, tetapi juga sebagai pribadi. Para penggemar membuat saya menjadi seperti sekarang,” kata Keegan dalam sebuah wawancara pada 2011.
Mantan bek Liverpool, Jamie Carragher, juga memberikan penghormatan. Ia menyebut Keegan sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Inggris serta sosok penting yang membantu membangun kejayaan Liverpool.
Manchester City dan Scunthorpe Ikut Berduka
Manchester City mengenang Keegan sebagai manajer yang membawa optimisme dan perubahan besar selama empat tahun memimpin klub.
Sementara itu, Scunthorpe United, klub pertama dalam karier profesional Keegan, menggambarkannya sebagai sosok yang selalu murah senyum dan menginspirasi banyak orang hingga akhir hayatnya.
Keegan bahkan sempat kembali mengunjungi stadion Scunthorpe pada akhir 2025 untuk memberikan motivasi kepada para pemain sebelum pertandingan.
Kepergian Kevin Keegan meninggalkan duka mendalam bagi dunia sepak bola. Warisannya sebagai pemain kelas dunia, peraih dua Ballon d’Or, pelatih karismatik, dan salah satu ikon terbesar sepak bola Inggris akan terus dikenang lintas generasi.

