Jakarta (tutur.co.id)- Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, memimpin rapat koordinasi Komite Tata Kelola Terintegrasi (KTKT) untuk memantau dampak geopolitik global terhadap bisnis Pertamina Group sekaligus melakukan penilaian ulang terhadap pemeringkatan risiko anak perusahaan. Rapat yang berlangsung di Ballroom Pertamina Club, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (4/6/2026), itu dihadiri komisaris dan manajemen anak perusahaan guna merumuskan langkah strategis perusahaan menghadapi dinamika global, berdasar keterangan tertulis yang diterima Redaksi Tutur.
Dalam arahannya, Iriawan menyampaikan kondisi geopolitik global saat ini semakin memanas. Konflik kawasan, volatilitas harga minyak dunia, tekanan rantai pasokan, fluktuasi nilai tukar, hingga fragmentasi ekonomi global dinilai telah memberi tekanan besar terhadap industri energi domestik. Menurutnya, Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak hanya menghadapi tantangan bisnis komersial, tetapi juga memikul mandat strategis pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional dan stabilitas pasokan energi di dalam negeri.
Ia menegaskan tantangan yang dihadapi Pertamina Group kini telah bergeser dari sekadar risiko operasional menjadi risiko finansial strategis dan risiko kebijakan. Karena itu, seluruh lini bisnis diminta mengelola risiko secara hati-hati, cermat, dan terintegrasi. Iriawan juga meminta dokumen penilaian risiko tidak hanya menjadi formalitas administratif, tetapi bertransformasi menjadi sistem peringatan dini yang mampu memberikan visibilitas risiko terintegrasi bagi direksi dan komisaris dalam mengambil keputusan strategis.
Menurut Iriawan, kecermatan dalam penilaian risiko, mitigasi, serta pengambilan langkah yang tepat menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis perusahaan. Ia juga menyoroti pentingnya menghapus ego sektoral dan pola kerja silo antarunit bisnis maupun subholding agar seluruh ekosistem Pertamina dapat bergerak sebagai satu entitas yang saling memperkuat.
“Saya ingin menegaskan bahwa sinergi bisnis Pertamina Group harus dijalankan secara nyata, bukan hanya konsep organisasi. Setiap unit bisnis dan anak perusahaan wajib mengutamakan penggunaan produk, jasa, dan kapabilitas internal Pertamina Group sepanjang tersedia dan memenuhi aspek keekonomian serta kualitas. Seluruh ekosistem Pertamina harus saling memperkuat,” tutupnya.

