Jakarta (tutur.co.id)- Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) mendukung penyelenggaraan forum Energi Baru dan Terbarukan (EBT) bertajuk #EnergiMasaKini: Cheap & Clean Energy Now! yang digelar pada Selasa (2/6/2026). Forum ini diinisiasi oleh Generasi Energi Bersih Indonesia (GenB Indonesia) bersama Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) melalui METI Energi Muda sebagai ruang dialog bagi mahasiswa, komunitas energi, akademisi, praktisi, hingga pembuat kebijakan.
Berdasar keterangan tertulis yang diterima Redaksi Tutur, kegiatan ini membahas masa depan energi bersih Indonesia sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam agenda transisi energi nasional.
Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) yang juga Direktur Proyek dan Operasi Pertamina NRE, Norman Ginting, menyoroti besarnya potensi energi baru terbarukan Indonesia yang mencapai lebih dari 3.600 GW. Namun, menurutnya, potensi tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi kapasitas terpasang untuk mendukung percepatan transisi energi nasional.
“Indonesia memiliki salah satu potensi energi terbarukan terbesar di dunia. Tantangan kita adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi proyek yang terealisasi, industri yang tumbuh, dan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat,” ujar Norman.
Ia menjelaskan Indonesia membutuhkan tambahan kapasitas EBT sekitar 6–8 GW setiap tahun untuk mencapai target bauran energi nasional. Karena itu, percepatan transisi energi memerlukan dukungan regulasi yang kuat, pembiayaan kompetitif, kesiapan infrastruktur jaringan listrik, ketersediaan lahan, hingga rantai pasok yang terintegrasi.
Norman menegaskan Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar teknologi energi terbarukan, tetapi juga harus mampu membangun industri nasional dan memperkuat penguasaan teknologi energi bersih.
“Kita harus menjadi pelaku utama dalam pengembangan energi bersih, membangun industri dalam negeri, mengembangkan rantai pasok nasional, dan meningkatkan penguasaan teknologi. Transisi energi bukan sekadar menyediakan listrik, tetapi juga peluang untuk memperkuat daya saing ekonomi dan kemandirian bangsa,” katanya.
Menurut Norman, pengembangan energi terbarukan juga membuka peluang lahirnya profesi, industri, dan inovasi baru di Indonesia. Karena itu, keterlibatan generasi muda dinilai menjadi faktor penting dalam memastikan keberhasilan transisi energi sekaligus menciptakan talenta sektor energi masa depan.
Corporate Secretary Pertamina NRE, Sri Nur Hidayati, mengatakan forum tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman publik mengenai energi bersih sekaligus memperkuat kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
“Pertamina NRE meyakini bahwa keberhasilan transisi energi membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat, termasuk keterlibatan generasi muda sebagai inovator, profesional, dan pemimpin yang akan menggerakkan sektor energi di masa depan,” ujar Sri.
Sebagai subholding Pertamina yang mendapat mandat mengembangkan bisnis rendah karbon, Pertamina NRE terus mendukung pengembangan energi bersih sekaligus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui kolaborasi dengan komunitas, akademisi, pemerintah, dan berbagai mitra strategis.
Sejalan dengan target Net Zero Emission Indonesia 2060 atau lebih cepat, Pertamina NRE berharap semakin banyak generasi muda terlibat aktif dalam mewujudkan ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi hijau, dan kemandirian teknologi Indonesia.

