Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin (20/7/2026), meski dibayangi sentimen negatif dari pelemahan bursa saham Amerika Serikat (AS). Penguatan harga komoditas, aksi beli investor asing, serta apresiasi nilai tukar rupiah diperkirakan menjadi penopang pergerakan indeks.
CGS International Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat pada kisaran support 6.060–5.945 dan resistance 6.290–6.405.
“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 6.060-5.945 dan resistance 6.290-6.405,” tulis CGS International Sekuritas Indonesia dalam riset hariannya, Senin (20/7/2026).
Dari eksternal, mayoritas indeks Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan pekan lalu. Tekanan datang dari aksi jual saham-saham semikonduktor di tengah dimulainya musim laporan keuangan kuartal II-2026 serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Sentimen negatif dipicu peluncuran model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terbaru oleh perusahaan rintisan asal China, Moonshot AI, yang diklaim mampu memperkecil kesenjangan teknologi dengan produk-produk AI unggulan dari Amerika Serikat.
Klaim tersebut memunculkan kekhawatiran investor terhadap prospek belanja besar perusahaan teknologi AS untuk pengembangan AI. Pasar mulai menilai pengguna akhir semakin sensitif terhadap harga layanan AI, sehingga berpotensi memengaruhi prospek pendapatan perusahaan-perusahaan teknologi besar.
Di sisi lain, eskalasi konflik di Timur Tengah juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global sekaligus memengaruhi sentimen investasi.
Meski demikian, pasar domestik diperkirakan mendapat dukungan dari berlanjutnya aksi beli investor asing, penguatan nilai tukar rupiah, serta naiknya mayoritas harga komoditas global yang berpotensi menopang saham-saham berbasis sumber daya alam.
Untuk memanfaatkan peluang perdagangan jangka pendek, CGS International Sekuritas Indonesia merekomendasikan enam saham yang layak dicermati, yakni TOWR, TLKM, BBNI, BBRI, JPFA, dan MYOR.

