Jakarta (tutur.co.id) – Mimpi San Antonio Spurs untuk membuka Final NBA 2026 dengan kemenangan harus berakhir pahit. Bermain di hadapan pendukung sendiri, Spurs justru gagal mempertahankan keunggulan 14 poin dan menyerah 95-105 dari New York Knicks pada Game 1, Rabu (3/6) malam waktu setempat.
Sorotan utama pertandingan mengarah kepada Victor Wembanyama, yang menjalani debut Final NBA dalam kariernya. Meski membukukan double-double dengan 26 poin dan 12 rebound, bintang asal Prancis tersebut tampil jauh dari performa terbaiknya.
Efektivitas menjadi masalah terbesar Wembanyama. Ia hanya mampu memasukkan enam dari 21 percobaan tembakan dari lapangan dan gagal menjadi pembeda saat Spurs kehilangan momentum di babak kedua.
Usai pertandingan, pemain berusia 22 tahun itu tidak mencari alasan atas hasil buruk yang dialami timnya.
San Antonio sebenarnya tampil menjanjikan sejak awal laga. Setelah unggul 55-48 saat turun minum, Spurs semakin menjauh pada kuarter ketiga dan sempat membuka selisih hingga 14 poin.
Pada fase tersebut, tuan rumah terlihat mengendalikan pertandingan dan berada di jalur yang tepat untuk meraih kemenangan pembuka.
Namun situasi berubah drastis ketika Knicks mulai menemukan ritme permainan mereka. New York menutup kuarter ketiga dengan laju 22-9 yang membuat kedudukan kembali imbang 76-76.
Memasuki kuarter keempat, Spurs mulai kesulitan mencetak angka. Pertahanan Knicks semakin agresif, sementara serangan San Antonio kehilangan efektivitas.
Tim tuan rumah hanya mampu menghasilkan 19 poin sepanjang kuarter terakhir, sementara Knicks tampil lebih tenang dalam mengeksekusi serangan.
Di tengah kesulitan Spurs, Jalen Brunson kembali menunjukkan statusnya sebagai pemain paling berpengaruh bagi Knicks musim ini.
Guard andalan New York itu mencetak total 30 poin, termasuk 13 poin pada kuarter keempat. Salah satu momen krusial terjadi ketika Brunson memasukkan tembakan tiga angka setelah Wembanyama sempat membawa Spurs unggul tipis 95-94 melalui dua lemparan bebas.
Tembakan tersebut mengubah arah pertandingan dan membuat Knicks memegang kendali hingga peluit akhir berbunyi.
Brunson kemudian menutup penampilan impresifnya lewat jumper berputar yang masuk saat pertandingan menyisakan 38 detik.
Meski statistik Wembanyama terlihat impresif di atas kertas, pertandingan ini menjadi pelajaran penting bagi pemain yang digadang-gadang sebagai wajah baru NBA tersebut.
Knicks berhasil membatasi efektivitasnya sepanjang pertandingan melalui pertahanan fisik dan rotasi yang disiplin. Wembanyama juga beberapa kali kesulitan menemukan ruang untuk mendapatkan tembakan yang nyaman.
Di sisi lain, Spurs kehilangan kontribusi konsisten dari para pemain pendukung saat Knicks mulai menekan pada babak kedua.
Stephon Castle menambahkan 17 poin, sementara Julian Champagnie dan Dylan Harper masing-masing mencetak 16 poin. Namun kontribusi tersebut belum cukup untuk menghindarkan San Antonio dari kekalahan.
Kemenangan ini memiliki arti besar bagi Knicks. Selain unggul 1-0 dalam seri Final NBA 2026, mereka juga berhasil merebut keuntungan kandang dari Spurs.
Lebih menarik lagi, ini menjadi pertama kalinya dalam sejarah San Antonio kalah pada Game 1 Final NBA. Sebelumnya, Spurs selalu berhasil memenangkan enam laga pembuka final yang pernah mereka jalani.
Kini tekanan beralih ke kubu Spurs yang wajib bangkit pada Game 2 jika tidak ingin tertinggal lebih jauh sebelum seri berpindah ke New York.
Bagi Wembanyama dan rekan-rekannya, pekerjaan rumah terbesar adalah menemukan kembali konsistensi permainan yang sempat membawa mereka unggul dua digit sebelum akhirnya runtuh di hadapan kebangkitan Knicks. (sas)

