Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak terbatas pada awal pekan ini seiring sikap wait and see pelaku pasar menjelang hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Investor tidak hanya menantikan keputusan suku bunga acuan (BI Rate), tetapi juga mencermati arah kebijakan Bank Indonesia terkait stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, serta prospek arus modal asing.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana memperkirakan IHSG bergerak pada kisaran 6.000-6.300 selama pekan berlangsungnya RDG BI. Menurutnya, area 6.500 menjadi level penting yang akan menentukan arah pergerakan indeks selanjutnya.
“Pergerakan IHSG pada pekan menjelang hasil RDG Bank Indonesia diperkirakan masih akan diwarnai sikap wait and see. Pelaku pasar tidak hanya menanti keputusan mengenai BI Rate, tetapi juga mencermati arah kebijakan Bank Indonesia ke depan, terutama terkait stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, dan prospek arus modal asing,” ujar Hendra, Senin (20/7/2026).
Ia menjelaskan, perhatian pasar saat ini lebih tertuju pada forward guidance atau sinyal kebijakan Bank Indonesia dibandingkan besaran perubahan suku bunga itu sendiri. Selama bank sentral mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi, pasar diperkirakan akan merespons positif karena ekspektasi tersebut telah banyak diperhitungkan investor.
Sebaliknya, apabila Bank Indonesia memberikan sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif, IHSG berpotensi mengalami tekanan jangka pendek, terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Meski demikian, Hendra tetap optimistis terhadap prospek pasar saham hingga akhir tahun. Menurutnya, selama kondisi makroekonomi tetap terjaga, nilai tukar rupiah stabil, serta kinerja emiten membaik pada semester II-2026, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan ke kisaran 6.700-6.900. Bahkan, indeks berpotensi menguji level psikologis 7.000 apabila arus dana asing terus mengalir ke pasar domestik.
Di tengah ketidakpastian global, ia menyarankan investor menerapkan strategi buy on weakness dengan fokus pada saham-saham berfundamental kuat. Sektor perbankan masih menjadi pilihan utama, disusul sektor telekomunikasi, komoditas, dan infrastruktur yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan relatif lebih baik.
Selain saham, Hendra juga menilai Surat Berharga Negara (SBN) atau obligasi pemerintah layak dipertimbangkan sebagai instrumen diversifikasi portofolio karena mampu memberikan stabilitas di tengah volatilitas pasar.
Untuk perdagangan saat ini, Hendra merekomendasikan empat saham pilihan, yakni BMRI dengan target harga Rp4.710, BBCA Rp6.850, BBRI Rp3.130, dan TLKM Rp3.030. Keempat emiten tersebut dinilai memiliki fundamental yang solid, valuasi yang masih menarik, serta prospek pertumbuhan yang positif di tengah dinamika pasar.

