Jakarta (tutur.co.id) — Harga emas dunia diperkirakan kembali bergerak fluktuatif pada pekan ini seiring tingginya ketidakpastian global. Eskalasi konflik geopolitik, dinamika politik Amerika Serikat (AS), arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), hingga permintaan emas oleh bank sentral diperkirakan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan logam mulia.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan harga emas masih berpotensi mengalami koreksi dalam jangka pendek. Menurutnya, level support pertama berada di US$3.970 per troy ounce, sedangkan support berikutnya berada di kisaran US$3.856 per troy ounce apabila tekanan jual berlanjut.
“Harga emas bisa terkoreksi dengan support pertama di US$3.970 per troy ounce. Apabila kembali melemah, support berikutnya berada di US$3.856 per troy ounce,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (19/7/2026).
Meski demikian, peluang penguatan harga emas masih terbuka apabila sentimen pasar kembali mendukung aset safe haven. Ibrahim memperkirakan emas berpotensi menguji resistance pertama di US$4.063 per troy ounce, kemudian melanjutkan kenaikan menuju US$4.149 per troy ounce apabila momentum bullish berlanjut.
Menurut Ibrahim, terdapat empat faktor utama yang akan menentukan arah harga emas pada pekan ini, yakni perkembangan geopolitik, situasi politik di Amerika Serikat, kebijakan moneter Federal Reserve, serta keseimbangan antara pasokan dan permintaan emas global.
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama investor. Serangan terhadap infrastruktur strategis di Iran dan aksi balasan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut meningkatkan ketidakpastian pasar. Selain itu, blokade yang dilakukan kelompok Houthi di Laut Merah berpotensi mengganggu jalur perdagangan global. Kondisi tersebut diperkirakan mendorong kenaikan harga minyak mentah, meningkatkan biaya logistik dan transportasi, serta memicu tekanan inflasi global.
Dari sisi politik, dinamika di Amerika Serikat menjelang pemilu sela Kongres juga diperkirakan memengaruhi sentimen pasar. Di sisi lain, meski data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) terbaru menunjukkan perlambatan inflasi, risiko kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik dapat kembali mendorong inflasi.
Apabila tekanan inflasi meningkat, Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer), bahkan tidak menutup kemungkinan kembali menaikkan suku bunga.
“Jika inflasi kembali meningkat, Bank Sentral Amerika bisa saja menaikkan suku bunga lebih dari dua kali. Kondisi tersebut berpotensi menekan harga emas dunia,” kata Ibrahim.
Di sisi lain, permintaan emas dari bank sentral dunia masih menjadi penopang utama harga logam mulia. Ibrahim menilai pembelian emas oleh bank sentral bukan bertujuan mencari keuntungan jangka pendek, melainkan sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset dan penguatan cadangan devisa.
Ia mencatat pembelian emas oleh bank sentral global pada kuartal I-2026 meningkat sekitar 17% dibandingkan kuartal sebelumnya. Tren tersebut menunjukkan emas masih dipandang sebagai aset strategis untuk menjaga stabilitas keuangan di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.
Dengan kombinasi berbagai sentimen tersebut, pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan geopolitik, kebijakan Federal Reserve, serta pergerakan harga minyak dunia karena ketiga faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama arah harga emas dalam jangka pendek.

