Jakarta (tutur.co.id)- Sakit kepala menjadi salah satu keluhan yang cukup sering dialami perempuan. Kondisi ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari perubahan hormon, stres, pola tidur yang tidak teratur, hingga gaya hidup sehari-hari. Berdasarkan kajian dalam jurnal The Journal of Headache and Pain, perempuan memiliki prevalensi migrain yang lebih tinggi dibanding laki-laki, terutama karena pengaruh hormon estrogen yang fluktuatif.
Berikut beberapa jenis sakit kepala yang umum dialami perempuan:
• Sakit Kepala Tegang (Tension Headache)
Ini merupakan jenis sakit kepala yang paling sering terjadi. Rasa nyerinya biasanya seperti ditekan atau diikat di kedua sisi kepala, terutama di bagian dahi atau belakang kepala. Pemicunya antara lain stres, kelelahan, serta kurang tidur. Studi dalam The Journal of Headache and Pain menyebutkan bahwa tension headache berkaitan erat dengan faktor psikologis dan ketegangan otot.
• Migrain
Migrain lebih sering dialami perempuan dibanding laki-laki. Nyeri biasanya berdenyut dan terjadi di satu sisi kepala. Selain itu, migrain sering disertai mual, muntah, serta sensitivitas terhadap cahaya dan suara. Menurut publikasi di The Lancet Neurology, faktor hormonal, terutama perubahan estrogen, berperan besar dalam meningkatkan risiko migrain pada perempuan usia produktif.
• Sakit Kepala Hormonal (Menstrual Migraine)
Jenis ini berkaitan langsung dengan siklus menstruasi. Penurunan hormon estrogen menjelang atau saat haid dapat memicu sakit kepala yang cenderung lebih berat dan berlangsung lebih lama dibanding migrain biasa. Penelitian yang dimuat dalam jurnal Cephalalgia menjelaskan bahwa menstrual migraine memiliki pola khas yang berulang mengikuti siklus haid.
• Sakit Kepala Cluster
Meski lebih umum pada laki-laki, perempuan juga bisa mengalaminya. Rasa nyerinya sangat intens dan biasanya terpusat di sekitar satu mata. Serangan terjadi berulang dalam periode tertentu. Studi di jurnal Brain menyebutkan bahwa cluster headache berkaitan dengan gangguan pada hipotalamus yang mengatur ritme biologis tubuh.
• Sakit Kepala Sinus
Sakit kepala ini disebabkan oleh peradangan atau infeksi pada sinus. Nyeri terasa di area wajah seperti dahi, pipi, dan sekitar hidung. Biasanya disertai gejala lain seperti hidung tersumbat, pilek, atau demam. Penjelasan mengenai kondisi ini juga banyak dibahas dalam American Journal of Rhinology & Allergy.
• Sakit Kepala akibat Kurang Tidur
Kurang tidur dapat memicu sakit kepala ringan hingga sedang. Perempuan dengan aktivitas padat atau kualitas tidur yang buruk lebih rentan mengalami kondisi ini. Studi dalam Sleep Medicine Reviews menunjukkan hubungan antara gangguan tidur dan peningkatan frekuensi sakit kepala.
• Sakit Kepala akibat Dehidrasi
Kurangnya asupan cairan juga bisa menyebabkan sakit kepala. Gejalanya berupa rasa nyeri yang menyebar di seluruh kepala dan bisa memburuk saat beraktivitas. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nutrients mengaitkan dehidrasi dengan penurunan fungsi kognitif serta munculnya keluhan nyeri kepala.
Mengenali jenis sakit kepala penting agar penanganannya sesuai. Jika sakit kepala terjadi terus-menerus, semakin berat, atau disertai gejala lain seperti gangguan penglihatan, muntah hebat, atau leher kaku, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Menjaga pola hidup sehat, cukup istirahat, mengelola stres, serta memenuhi kebutuhan cairan harian dapat membantu mengurangi risiko sakit kepala.

