Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • AS vs Australia: Serangan Mematikan Kontra Benteng Baja, Siapa Kuasai Grup D?
  • Sony Sonjaya Bongkar Pengadaan CCTV dan Sidik Jari Fiktif Rp300 M
  • RUPS PLN Tetapkan Perubahan Susunan Direksi, Berikut Daftarnya
  • Meksiko Jadi Negara Pertama Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026
  • Polisi Tangkap Roy Suryo dan Dokter Tifa Kasus Ijazah Jokowi
  • Duit Liverpool Ditolak! RB Leipzig Pasang Harga Gila untuk Yan Diomande
  • Broken Home: Luka Keluarga yang Tak Selalu Terlihat, Tapi Berdampak Panjang
  • Tangis dan Cedera Kone Warnai Kemenangan Bersejarah Kanada di Piala Dunia 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Health»Broken Home: Luka Keluarga yang Tak Selalu Terlihat, Tapi Berdampak Panjang

Broken Home: Luka Keluarga yang Tak Selalu Terlihat, Tapi Berdampak Panjang

Health Sasha Widiawati19 Juni 2026 / 09:14 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) – Keluarga idealnya menjadi ruang pertama bagi seseorang untuk mendapatkan kasih sayang, rasa aman, dan perlindungan emosional. Namun, tidak semua individu tumbuh dalam lingkungan yang ideal. Sebagian harus menghadapi kondisi keluarga broken home, yakni situasi ketika fungsi keluarga tidak berjalan secara harmonis, bukan hanya terbatas pada perceraian orang tua.

Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti konflik berkepanjangan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pengabaian emosional, hingga kehilangan salah satu atau kedua orang tua. Situasi tersebut kerap meninggalkan dampak psikologis mendalam, terutama bagi anak yang masih berada dalam tahap perkembangan emosional.

Secara umum, istilah broken home sering disamakan dengan perceraian. Padahal, dalam perspektif psikologi keluarga, kondisi ini mencakup lebih luas dari sekadar status hukum orang tua.

Sebuah keluarga dapat dikategorikan broken home ketika interaksi di dalamnya tidak lagi sehat, penuh konflik, atau tidak memberikan rasa aman secara emosional. Bahkan dalam beberapa kasus, perceraian yang dilakukan secara baik (good divorce) dengan pola co-parenting yang sehat justru lebih minim dampak traumatis dibandingkan keluarga yang tetap utuh namun penuh konflik.

Menurut pendekatan psikologi perkembangan, anak yang tumbuh dalam lingkungan toksik sering mengalami parentification, yaitu kondisi ketika anak dipaksa mengambil peran orang dewasa dalam keluarga. Hal ini dapat mengganggu proses tumbuh kembang secara emosional dan sosial.

Berbagai studi psikologi, termasuk yang dipublikasikan dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry, menunjukkan bahwa anak dari keluarga dengan konflik tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan emosional.

Beberapa dampak yang umum terjadi antara lain:

1. Gangguan Kecemasan dan Depresi

Lingkungan keluarga yang tidak stabil dapat membuat anak berada dalam kondisi stres berkepanjangan. Hal ini memicu respons fight or flight yang terus aktif dan berpotensi berkembang menjadi gangguan kecemasan.

Baca Juga  Venustraphobia, Fobia Unik yang Membuat Seseorang Takut pada Perempuan Cantik

Selain itu, perasaan tidak dicintai atau menyalahkan diri sendiri atas konflik orang tua juga dapat memicu depresi. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian profesional dari psikolog atau psikiater untuk penanganan yang tepat.

2. Trust Issue dan Ketakutan dalam Hubungan

Pengalaman menyaksikan konflik orang tua sering membentuk pandangan negatif terhadap hubungan jangka panjang. Akibatnya, seseorang bisa mengalami kesulitan membangun kepercayaan, takut ditinggalkan, atau bahkan tanpa sadar merusak hubungan yang sedang dijalani.

3. Kesulitan Mengatur Emosi

Anak belajar mengelola emosi melalui lingkungan keluarga. Ketika mereka tumbuh dalam suasana penuh konflik, pola ekspresi emosi yang tidak sehat seperti marah berlebihan atau menarik diri bisa terbawa hingga dewasa.

Tanda Anak Mengalami Dampak Konflik Keluarga

Beberapa tanda yang sering muncul antara lain:

  • Penurunan prestasi akademik secara signifikan
  • Perubahan perilaku ekstrem (agresif atau menarik diri)
  • Gangguan pola tidur dan makan
  • Kecenderungan emotional eating atau pelarian emosional

Tanda-tanda ini tidak boleh diabaikan karena dapat berkembang menjadi masalah kesehatan mental jangka panjang.

Dampak Fisik Akibat Stres Berkepanjangan

Dampak broken home tidak hanya terjadi pada aspek psikologis, tetapi juga fisik. Stres emosional berkepanjangan dapat meningkatkan hormon kortisol yang memengaruhi sistem imun tubuh.

Akibatnya, individu lebih rentan mengalami:

  • Flu dan infeksi berulang
  • Gangguan pencernaan seperti GERD
  • Sakit kepala tegang
  • Gangguan siklus tidur dan hormon

Keterkaitan antara mental dan fisik ini menunjukkan bahwa trauma keluarga bukan sekadar persoalan emosional, tetapi juga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Cara Sehat Menghadapi dan Pulih dari Broken Home

Meski meninggalkan luka, kondisi broken home bukan akhir dari segalanya. Pemulihan tetap memungkinkan dengan langkah yang tepat.

1. Menerima dan Memvalidasi Emosi

Baca Juga  10 Hari Kedua Ramadan: Pilih Menu Es yang Lebih Ramah Tubuh Saat Berbuka

Mengakui rasa sakit adalah langkah awal pemulihan. Menekan emosi justru dapat memperburuk kondisi psikologis.

2. Membangun Support System

Dukungan sosial dari teman, mentor, atau komunitas dapat menjadi pengganti lingkungan keluarga yang tidak sehat secara emosional.

3. Menghindari Pelarian Negatif

Penting untuk menghindari pelarian seperti alkohol, obat terlarang, atau perilaku berisiko. Sebagai gantinya, salurkan emosi melalui aktivitas produktif seperti olahraga, menulis, atau seni.

4. Fokus pada Pengembangan Diri

Mengalihkan fokus pada pendidikan, karier, dan keterampilan baru dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri serta membangun kembali harga diri.

Penelitian juga menunjukkan bahwa individu yang mendapatkan dukungan emosional dari lingkungan sekitar, seperti guru, konselor, atau keluarga besar, memiliki tingkat resiliensi lebih tinggi. Dengan intervensi yang tepat, dampak negatif broken home dapat diminimalkan.

Hal ini menegaskan bahwa kondisi keluarga tidak sepenuhnya menentukan masa depan seseorang. Dengan dukungan dan usaha pemulihan yang konsisten, individu tetap dapat tumbuh menjadi pribadi yang stabil secara emosional dan sukses dalam kehidupan. (sas)

broken home dampak broken home gangguan kecemasan kesehatan mental anak
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleTangis dan Cedera Kone Warnai Kemenangan Bersejarah Kanada di Piala Dunia 2026
Next Article Duit Liverpool Ditolak! RB Leipzig Pasang Harga Gila untuk Yan Diomande

Berita Lainnya

Leunca, Lalapan Khas Sunda yang Disukai Banyak Orang, Ternyata Kaya Nutrisi

18 Juni 2026 / 09:02 WIB

5 Minuman yang Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Bukan Pembakar Lemak Instan

17 Juni 2026 / 09:11 WIB

8 Minuman yang Sebaiknya Dihindari Saat Perut Kosong di Pagi Hari

15 Juni 2026 / 10:18 WIB

Asam Lambung Bisa Berujung Kanker hingga Kematian, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

13 Juni 2026 / 08:43 WIB

Amankah Tidur dengan Kipas Angin Menyala Semalaman? Simak Faktanya

11 Juni 2026 / 09:51 WIB

Manfaat Kwaci Bunga Matahari untuk Kesehatan, Camilan Renyah yang Kaya Nutrisi

10 Juni 2026 / 15:12 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Larangan Jalan-jalan Kepala Daerah Dikeluarkan, Kecuali Jalankan Perintah Presiden

Toto Pribadi08 Maret 2026 / 21:44 WIB

AS vs Australia: Serangan Mematikan Kontra Benteng Baja, Siapa Kuasai Grup D?

19 Juni 2026 / 11:00 WIB

Sony Sonjaya Bongkar Pengadaan CCTV dan Sidik Jari Fiktif Rp300 M

19 Juni 2026 / 10:58 WIB

RUPS PLN Tetapkan Perubahan Susunan Direksi, Berikut Daftarnya

19 Juni 2026 / 10:51 WIB

Meksiko Jadi Negara Pertama Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026

19 Juni 2026 / 10:21 WIB

Polisi Tangkap Roy Suryo dan Dokter Tifa Kasus Ijazah Jokowi

19 Juni 2026 / 09:59 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.