Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Herdman Minta Timnas Indonesia Tetap Rendah Hati Usai Bungkam Oman
  • Ekonom: Fondasi Ekonomi Nasional Tetap Terjaga Dengan Baik
  • Kalahkan Oman 3-0, Indonesia Sudahi Penantian 38 Tahun
  • 10 Motor hingga Dolar Disita KPK Diduga Hasil Pemerasan
  • Saat MBG Jadi Ladang Korupsi, Yuk Intip Program Makan Gratis Negara Lain
  • Asosiasi Ojol Dorong Penetapan Status Mitra Digital Bukan Karyawan Perusahaan
  • Kuasa Hukum Bantah Silmy Karim Sempat Buron
  • PHI Catat Produksi Migas Lampaui Target RKAP 2025
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Finance»Ekonom: Fondasi Ekonomi Nasional Tetap Terjaga Dengan Baik

Ekonom: Fondasi Ekonomi Nasional Tetap Terjaga Dengan Baik

Finance Gaib MS06 Juni 2026 / 01:10 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Ilustrasi - Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww/am.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

JAKARTA (tutur.co.id) – Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, berbagai indikator menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang kuat dan mampu bertahan menghadapi tekanan eksternal. Pelemahan nilai tukar rupiah, volatilitas pasar keuangan, hingga perlambatan ekonomi dunia dinilai lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika global dibandingkan persoalan fundamental dalam negeri.

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menilai masyarakat tidak perlu merespons perkembangan ekonomi saat ini dengan kekhawatiran berlebihan. Menurutnya, sejumlah indikator utama menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional tetap terjaga dengan baik.

“Yang perlu dipahami adalah bahwa kondisi saat ini merupakan fase penyesuaian terhadap dinamika global, bukan sinyal krisis. Karena itu, yang lebih penting adalah menjaga optimisme yang rasional berdasarkan data dan fundamental ekonomi yang ada,” Ujar Josua dalam Komunita Economic Talk bertajuk Membaca Tantangan dan Peluang Ekonomi Indonesia Saat Ini.

Selain fundamental ekonomi yang dinilai masih kuat, Josua menekankan pentingnya koordinasi antarlembaga dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Menurutnya, pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi.

“Soal Kementerian Keuangan, fungsinya lebih ke aspek fiskalnya. Kalau Bank Indonesia ngurusin moneter, OJK ngurusin pasar keuangan. Dan ini harus saling bersinergi ketiganya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Kementerian Keuangan bertugas menjaga kesehatan fiskal dan APBN, Bank Indonesia bertanggung jawab terhadap stabilitas nilai tukar dan kebijakan suku bunga, sedangkan OJK bersama Bursa Efek Indonesia berperan menjaga stabilitas sektor jasa keuangan dan pasar modal.

Menurut Josua, berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah dan regulator menunjukkan bahwa setiap lembaga terus menjalankan perannya untuk menjaga ekonomi tetap stabil di tengah tekanan global.

Menurutnya, aktivitas konsumsi masyarakat masih tumbuh, inflasi berada dalam rentang yang terkendali, sektor perbankan tetap sehat, dan APBN masih mampu menjalankan fungsinya sebagai instrumen stabilisasi ekonomi. Di tengah berbagai tekanan global, indikator-indikator tersebut menjadi penopang penting bagi stabilitas ekonomi nasional.

Josua menjelaskan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tercermin dari sejumlah indikator makro yang masih menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada pada level yang relatif tinggi, sementara inflasi masih terjaga sehingga mendukung stabilitas daya beli masyarakat.

Baca Juga  IHSG Ambruk ke Level 6.370, Pasar Belum Respons Positif Kunjungan Dasco ke BEI

Konsumsi rumah tangga yang menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga masih menunjukkan pertumbuhan yang solid. Selain itu, peningkatan konsumsi pemerintah pada awal tahun turut memberikan dukungan terhadap aktivitas ekonomi domestik.

Dari sisi pasar keuangan, aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih mencatatkan kinerja positif. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa investor tetap menaruh kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

“Kepercayaan investor tetap terjaga karena fundamental ekonomi Indonesia masih dipandang kuat. Ini menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas ekonomi ke depan,” katanya.

Menanggapi kekhawatiran publik mengenai pelemahan rupiah, Josua menilai kondisi tersebut perlu ditempatkan dalam konteks global yang lebih luas. Penguatan dolar Amerika Serikat akibat tingginya suku bunga di negara maju serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik telah memberikan tekanan terhadap banyak mata uang dunia.

“Kombinasi dari semua inilah yang menyebabkan dollarnya naik dan minyaknya naik. Pelemahan rupiah saat ini bersifat global shock, dolar AS menguat terhadap semua mata uang dunia akibat kebijakan suku bunga tinggi di negara maju dan tensi geopolitik timur tengah” ujar Josua.

Karena itu, pelemahan rupiah saat ini tidak dapat diartikan sebagai indikasi bahwa ekonomi Indonesia sedang mengalami masalah struktural.

“Tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Yang membedakan dengan masa lalu adalah saat ini kondisi perbankan nasional jauh lebih kuat, likuiditas terjaga, dan koordinasi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia, serta otoritas sektor keuangan berjalan dengan baik,” ujarnya.

Josua juga menepis anggapan bahwa Indonesia sedang menuju krisis seperti yang terjadi pada tahun 1998. Menurutnya, struktur perekonomian Indonesia saat ini memiliki ketahanan yang jauh lebih baik dibandingkan saat krisis Asia terjadi hampir tiga dekade lalu.

Pada masa krisis 1998, Indonesia menghadapi kolapsnya sektor perbankan, lonjakan inflasi yang sangat tinggi, pelemahan tajam nilai tukar, serta kontraksi ekonomi yang dalam. Sebaliknya, kondisi saat ini menunjukkan karakteristik yang berbeda, di mana pertumbuhan ekonomi masih positif, inflasi terkendali, cadangan devisa berada pada level yang kuat, dan pengelolaan fiskal tetap disiplin.

Baca Juga  BNI Raih Tiga Penghargaan di JCB Indonesia Awards 2026

Ia menambahkan bahwa depresiasi rupiah saat ini juga tidak dapat disamakan dengan kondisi saat krisis. Pada 1998, nilai tukar rupiah melemah sangat tajam dari sekitar Rp4.000 per dolar AS menjadi lebih dari Rp16.000 per dolar AS dalam waktu singkat.

“Kalau dibandingkan dengan 1998, situasinya sangat jauh berbeda. Saat ini instrumen kebijakan dan fondasi ekonomi kita jauh lebih kuat untuk menghadapi gejolak global,” jelasnya.

Di tengah data makro yang relatif positif, Josua mengakui sebagian masyarakat masih merasakan tekanan terhadap kondisi keuangannya. Namun menurutnya, fenomena yang terjadi saat ini lebih tepat dipahami sebagai perubahan pola konsumsi dibandingkan penurunan daya beli secara menyeluruh.

Tekanan harga pada sejumlah komoditas membuat masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan pendapatannya. Sementara secara agregat, konsumsi domestik masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Untuk menjaga kelompok masyarakat rentan, pemerintah juga terus memperkuat berbagai program perlindungan sosial agar dampak tekanan ekonomi dapat diminimalkan.

Terkait berbagai program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, Josua menilai efektivitas program tidak tepat diukur hanya dalam jangka pendek.

Menurutnya, program-program tersebut merupakan investasi jangka panjang yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi di tingkat daerah.

“Program prioritas perlu dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitasnya. Namun manfaat strukturalnya baru dapat terlihat dalam jangka menengah hingga panjang, sehingga tidak tepat jika dinilai hanya berdasarkan hasil dalam waktu singkat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Josua menegaskan bahwa kepercayaan publik merupakan salah satu modal terpenting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, ekonomi tidak hanya ditentukan oleh angka-angka statistik, tetapi juga oleh keyakinan masyarakat, pelaku usaha, dan investor terhadap prospek masa depan.

Di tengah berbagai tantangan global yang masih berlangsung, ia mengajak masyarakat untuk tetap optimistis, produktif, dan adaptif terhadap perubahan.

“Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat, kapasitas kebijakan yang memadai, dan peluang yang besar untuk terus tumbuh. Karena itu, optimisme yang didasarkan pada data dan pemahaman yang baik menjadi sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan,” pungkasnya.

ekonomi Indonesia keuangan Rupiah
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleKalahkan Oman 3-0, Indonesia Sudahi Penantian 38 Tahun
Next Article Herdman Minta Timnas Indonesia Tetap Rendah Hati Usai Bungkam Oman

Berita Lainnya

Komentari Isu Rupiah, dr. Tirta: Ini Ulah Mata-Mata Asing Bikin Gaduh

05 Juni 2026 / 16:07 WIB

Rupiah Terancam Tembus Rp18.120 per Dolar AS, Sentimen Timur Tengah dan Moody’s Jadi Pemberat

05 Juni 2026 / 07:48 WIB

Investor Asing Masih Menjauh, Samuel Sekuritas Sebut Dua Risiko Besar IHSG

05 Juni 2026 / 07:18 WIB

IHSG Berpeluang Rebound ke 5.941, Tapi Rupiah dan Arus Keluar Asing Masih Jadi Ancaman

05 Juni 2026 / 06:48 WIB

Rupiah Porak Poranda Sentuh Rp18.000, Terlemah Sepanjang Sejarah

04 Juni 2026 / 11:10 WIB

IHSG Ambles ke Level Terendah Sejak 2020, Krisis Kepercayaan Investor Jadi Sorotan

04 Juni 2026 / 10:06 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Kemenangan Besar Iran atas Amerika Serikat, Soal Pengayaan Uranium

Toto Pribadi18 April 2026 / 10:35 WIB

Herdman Minta Timnas Indonesia Tetap Rendah Hati Usai Bungkam Oman

06 Juni 2026 / 02:00 WIB

Ekonom: Fondasi Ekonomi Nasional Tetap Terjaga Dengan Baik

06 Juni 2026 / 01:10 WIB

Kalahkan Oman 3-0, Indonesia Sudahi Penantian 38 Tahun

06 Juni 2026 / 01:08 WIB

10 Motor hingga Dolar Disita KPK Diduga Hasil Pemerasan

05 Juni 2026 / 22:18 WIB

Saat MBG Jadi Ladang Korupsi, Yuk Intip Program Makan Gratis Negara Lain

05 Juni 2026 / 21:53 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.