Jakarta (tutur.co.id) – Nama Yasinta Moiwend seorang tokoh adat perempuan dari Suku Marind Anim di Merauke, Papua Selatan, kini tengah menjadi sorotaan publik lantaran sikapnya yang dinilai telah berbalik arah terkait film dokumenter Pesta Babi.
Wanita yang biasa disapa Mama Sinta namanya mulai dikenal setelah sosoknya jadi salah satu itokoh utama film Pesta Babi. Wajah beberapa kali muncul termasuk dalam flyer promo film ini. Dalam film tersebut diceritakan tanah Mama Yasinta diserobot pemerintah lewat program PSN.
Tak hanya itu, dalam beberapa acara pemutaran film, ia bahkan dengan lantang mengajak seluruh masyarakat Papua untuk melakukan perlawanan karena dinilai kebijakan pemerintah saat ini mengancam tanah kelahirannya.
“Kita harus melawan seperti saya karena apa kami dilahirkan di atas tanah ini. Apapun yang terjadi di depan kita harus dilawan saya dari 2024 sampai 2026 saya masih bertahan, perjuangkan tanah kami, save papua!,” ucap Yasinta.
Namun kini muncul sebuah video singkat pengakuan Mama Sinta yang dinilai berlawanan dengan narasi di dalam film tersebut. Ia membantah secara sadar ikut terlibat untuk mendukung film yang sempat menjadi polemik. Bahkan secara tegas, ia menyatakan tak menyangka wajah dan keterangannya bakal dimuat.
“Itu tanpa izin dari saya, tanpa sepengetahuan saya. Saya kaget juga waktu film itu diputar dan ditampilkan saya di bagian depan. Mereka pikir saya boneka ditampilkan tanpa seizin saya,” ujar Mama Sinta, Senin, 25 Mei 2026 dikutip dari video singkatnya.
Kini ia secara tegas menyebut akan mendukung proyek pemerintah di tanah kelahirannya dengan harapan akan memberikan manfaat terhadap warga sekitar. Yasinta juga mendesak agar peredaran film yang memuat wajahnya sebagai tokoh utama untuk diturunkan karena dianggap tak berizin dan merasa di manfaatkan.
“Saya minta film itu dihentikan karena itu tanpa izin saya. Kenapa saya punya wajah ditampil terus. Saya tidak mau, karena itu tanpa izin saya. Terus mereka putar film itu dimana-mana, apa yang saya dapat,” kata Mama Yasinta.

