Jakarta (tutur.co.id) – Mama Yasinta Moiwend kini tengah jadi buah bibir. Pejuang lingkungan yang ikut ‘bersuara lantang’ dalam Film Pesta Babi kini berbalik arah dengan mendukung pemerintah terkait program Food Estate di tanah Papua. Spekulasi liar langsung berkembang.
Kabar ini juga telah sampai ke telinga dua sutradara Film Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale. Namun keduanya memilih untuk tidak menghakimi apa yang telah dilakukan Mama Yasinta Moiwend. Mereka juga mendesak semua pihak untuk tidak menyudutkan keputusan Mama Yasinta Moiwend.
“Kawan-kawan semua, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami Mama Yasinta Moiwend di pedalaman Papua sana. Apa pun yang muncul di media sosial, sepertinya kita perlu menahan diri untuk tidak menghakimi beliau,” kata Dandhy Laksono dan Cypri Dale lewat pernyataannya yang redaksi terima.
Dua sutradara film Pesta Babi ini juga menegaskan, apapun yang dilakukan Mama Yasinta Moiwend termasuk dengan berbalik arah dengan mendukung Food Estate di tanah pedalaman Papua adalah haknya.
“Bahkan jika semua yang disampaikan murni atas kehendak sendiri, bukankah setiap orang berhak membuat pilihan?” tulis pernyataaan Dandhy Laksono dan Cypri Dale.
Sebelumnya, publik dihebohkan dengan pernyataan Mama Yasinta Moiwend yang mengaku dijebak dalam Film Pesta Babi. Tokoh lingkungan itu mengaku tidak tahu jika wajahnya berkali-kali muncul dalam film dokumentar itu, tanpa izinnya. Ia juga mendesak film itu segera dihentikan.
“Saya minta film itu dihentikan karena itu tanpa izin saya. Kenapa saya punya wajah ditampil terus. Saya tidak mau, karena itu tanpa izin saya. Terus mereka putar film itu dimana-mana, apa yang saya dapat,” kata Mama Yasinta.
Dalam film dokumenter Pesta Babi, Mama Yasinta Moiwend memang beberapa kali muncul dengan narasi tanah adatnya telah diserobot proyek pemerintah. Bahkan dalam wajah Mama Yasinta juga muncul dalam flyer promo film tersebut.

