Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Spanyol vs Argentina: Duel Juara Benua Penentu Raja Dunia
  • TP PKK NTT Gandeng IAI Sambut KKN Tematik UGM, Perkuat Edukasi Penggunaan Obat hingga Tingkat Desa
  • Bek Spanyol Sebut Permainan Keras Argentina Sudah Kelewatan
  • Investasi Makin Diminati, Ini 5 Tips Agar Cuan Optimal dan Risiko Tetap Terkendali
  • Tiga Faktor yang Bisa Membuat Tembok Baja Spanyol Ambruk
  • Iran Sebut AS Telah Menginjak-injak Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB
  • Anak Hotman Luapkan Kekecewaan, Sindir Ayahnya Jadi Pengacara Febrie
  • Tutur PoV: Jangan Biarkan Penegakan Hukum Berubah Menjadi “Jeruk Makan Jeruk”
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Hukum»AFA Bunuh Diri Diduga Akibat Bullying, DPR: Kegagalan Kolektif Lindungi Anak

AFA Bunuh Diri Diduga Akibat Bullying, DPR: Kegagalan Kolektif Lindungi Anak

Hukum Alpin Pulungan10 Januari 2026 / 12:04 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Petugas dan warga mengevakuasi jasad AFA, pelajar 16 tahun asal Kabupaten Probolinggo, yang ditemukan meninggal dunia di rumahnya, Rabu 7 Januari 2026. AFA diduga mengalami tekanan psikologis akibat perundungan di lingkungan sekolah. Foto: Tangkapan Layar IG @jtvkediri
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur..co.id) — Siang itu, Rabu 7 Januari 2026, rumah sederhana di Kabupaten Probolinggo berubah menjadi titik duka. AFA, remaja 16 tahun, ditemukan tak bernyawa. Di balik itu, tersisa cerita yang belum tuntas tentang tekanan panjang yang diduga ia tanggung sendirian. Dugaan kuat mengarah pada perundungan di lingkungan sekolah.

Kepergian AFA mengundang keprihatinan luas. Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Anisah Syakur, menyebut tragedi ini sebagai alarm keras yang seharusnya membangunkan semua pihak. Ia menilai ada mata rantai yang putus dalam pendampingan terhadap anak, terutama ketika tekanan datang bertubi-tubi tanpa ruang aman untuk bercerita.

“Peristiwa ini sangat menyayat hati dan menjadi peringatan keras bagi kita semua. Dugaan perundungan yang dialami almarhum menunjukkan bahwa masih banyak anak yang menanggung beban psikologis berat tanpa pendampingan memadai,” ujar Anisah Syakur dalam keterangan tertulis yang diterima tutur.co.id, Sabtu 10 Januari 2026.

Menurut Anisah, tekanan psikologis bukan perkara langka dan tidak mengenal usia. Anak dan remaja pun rentan mengalaminya. Namun, ia menegaskan, banyak hal sebenarnya bisa dicegah bila lingkungan terdekat hadir lebih awal, bukan menunggu luka menjadi parah. Empati dan kepedulian, kata dia, sering kali menjadi pintu pertama untuk menyelamatkan.

Ia mengingatkan, urusan pendampingan tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada guru atau sekolah. Rumah, keluarga, dan orang-orang terdekat memiliki peran yang sama pentingnya. Di sanalah anak semestinya menemukan telinga yang mau mendengar dan hati yang mau memahami, bukan sekadar nasihat yang datang belakangan.

“Pendampingan terhadap anak tidak boleh sepenuhnya dibebankan kepada guru atau pihak sekolah. Orang tua, keluarga, dan orang-orang terdekat memiliki peran yang sangat krusial dalam mendengarkan, merespons, serta memberi nasihat atas setiap keluhan anak,” tegasnya.

Baca Juga  Nyali DPR Ditantang Kembalikan UU KPK Versi Lama

Anisah juga menyoroti kebiasaan menganggap sepele perubahan kecil pada perilaku anak. Menurutnya, sinyal-sinyal itu sering kali muncul lebih dulu sebelum masalah membesar. Ketika sinyal diabaikan, tekanan bisa menumpuk, berlipat, dan berubah menjadi beban yang terasa mustahil ditanggung sendirian.

“Ketika anak merasa tidak diperhatikan, tidak didengarkan, dan sendirian menghadapi masalahnya, tekanan itu bisa berlipat ganda. Dalam kondisi terburuk, anak bisa merasa kehilangan harapan,” jelasnya.

Lebih jauh, ia mengajak masyarakat untuk berhenti saling melempar tanggung jawab. Sekolah, rumah, dan ruang sosial lain harus sama-sama aman dari perundungan. Lingkungan yang ramah bukan sekadar slogan, melainkan kerja bersama yang menuntut kehadiran nyata setiap hari.

Di ujung pernyataannya, Anisah menegaskan bahwa tragedi ini tidak bisa dipersempit sebagai urusan satu keluarga. Ini adalah cermin sosial yang memantulkan kegagalan kolektif dalam menjaga anak-anak. Benteng terkuat, menurutnya, tetap sederhana namun sering diabaikan, kehadiran, kepedulian, dan empati dari orang-orang terdekat.

“Ini bukan semata tragedi keluarga, tetapi tragedi sosial. Kita semua harus bercermin. Kehadiran, kepedulian, dan empati dari keluarga serta lingkungan terdekat adalah benteng utama mencegah tragedi serupa terulang,” kata Anisah.

bullying bunuh diri DPR perlindungan anak perundungan
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticlePaus Leo XIV dan Dunia yang Kian Gemar Berperang
Next Article Rally Dakar 2026 Arab Saudi Menguji Ketahanan Teknologi Otomotif

Berita Lainnya

Anak Hotman Luapkan Kekecewaan, Sindir Ayahnya Jadi Pengacara Febrie

18 Juli 2026 / 19:37 WIB

Enggak Tercantum di LHKPN Febrie, Rumah Sentul Ternyata Milik Sang Anak

18 Juli 2026 / 16:19 WIB

Febrie Tak Tahu Brankas Berisi Emas Batangan dan Dolar di Rumah Sentul

18 Juli 2026 / 15:41 WIB

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli

18 Juli 2026 / 11:50 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Survei: Lebih 83 Persen Masyarakat Indonesia Tak Setuju AS-Israel Serang Iran

Toto Pribadi02 April 2026 / 15:27 WIB

Spanyol vs Argentina: Duel Juara Benua Penentu Raja Dunia

19 Juli 2026 / 08:00 WIB

TP PKK NTT Gandeng IAI Sambut KKN Tematik UGM, Perkuat Edukasi Penggunaan Obat hingga Tingkat Desa

19 Juli 2026 / 07:18 WIB

Bek Spanyol Sebut Permainan Keras Argentina Sudah Kelewatan

19 Juli 2026 / 07:00 WIB

Investasi Makin Diminati, Ini 5 Tips Agar Cuan Optimal dan Risiko Tetap Terkendali

19 Juli 2026 / 06:18 WIB

Tiga Faktor yang Bisa Membuat Tembok Baja Spanyol Ambruk

19 Juli 2026 / 02:00 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.