Vatikan (tutur.co.id) — Di tengah hujan tipis yang menyelimuti Vatikan, Paus Leo XIV berdiri di Hall of Benediction dan menyampaikan kegelisahan yang terasa akrab bagi banyak orang: dunia kembali percaya pada kekuatan senjata. Dalam pidato State of the World pertamanya, pemimpin Gereja Katolik sedunia itu mengecam negara-negara yang menjadikan militer sebagai alat diplomasi, seraya mengingatkan bahwa perdamaian yang dibangun di atas kekerasan hanyalah ilusi yang rapuh.
Pidato Paus Leo XIV pada Jumat (9/1) bukan sekadar sambutan diplomatik awal tahun. Di hadapan para duta besar dari 185 negara dan organisasi internasional yang terakreditasi di Takhta Suci, paus pertama asal Amerika Serikat itu menyusun semacam peta kegelisahan global—tentang perang, ketidakadilan, dan dunia yang semakin kehilangan kesabaran untuk berdialog.
“Perang kembali menjadi tren,” ujar Paus Leo XIV seperti yang dikutip dari rilis media oleh KBRI di Vatikan.
Diplomasi yang mendorong dialog dan konsensus, kata Sri Paus, perlahan digeser oleh diplomasi berbasis kekuatan. Organisasi internasional pun tampak semakin lemah menghadapi konflik yang berlapis dan saling terkait.
Nada keprihatinan itu mengalir dari Eropa Timur hingga Timur Tengah, dari Afrika sampai Asia dan Karibia. Paus menyerukan diakhirinya konflik di Ukraina, kawasan Timur Tengah, Myanmar, serta sejumlah wilayah Afrika dan Asia yang terus bergolak. Namun, perhatiannya mengerucut secara khusus pada Venezuela—negara yang, menurutnya, tengah berada di persimpangan berbahaya antara kehendak rakyat dan kepentingan politik sempit.
“Kepentingan bersama seluruh rakyat harus didahulukan, bukan pembelaan kepentingan partisan,” tegas Paus, merujuk pada meningkatnya ketegangan di kawasan Karibia dan sepanjang pantai Pasifik Amerika. Ia kembali menyerukan penghormatan terhadap kehendak rakyat Venezuela, perlindungan hak asasi manusia, serta jaminan masa depan yang stabil dan harmonis.
Asia Timur pun tak luput dari sorotannya. Paus Leo XIV—yang pernah mengunjungi Indonesia ketika masih menjadi Superior Jenderal Ordo Agustinian—menyebut kawasan ini sebagai wilayah dengan tanda-tanda ketegangan yang kian mengkhawatirkan. Sengketa teritorial di Laut Cina Selatan, persoalan Taiwan, ketegangan Thailand–Kamboja, hingga program nuklir Korea Utara, membentuk lanskap keamanan yang rapuh dan mudah tersulut.
Secara khusus, ia menyebut Myanmar. “Pikiran saya tertuju pada krisis kemanusiaan dan keamanan yang parah di negara itu,” katanya. Paus berharap semua pihak berani memilih jalan dialog inklusif, meski jalannya berat dan penuh risiko.
Ukraina menjadi potret paling gamblang dari dunia yang gagal menghentikan spiral kekerasan. Takhta Suci menilai situasi di lapangan semakin tragis, dengan pertumpahan darah yang terus merenggut korban sipil. “Rakyatlah yang membayar harga perang,” ujar Paus, seraya kembali mendesak gencatan senjata dan dialog yang tulus sebagai satu-satunya jalan menuju perdamaian.
Di Tanah Suci, gencatan senjata yang diumumkan Oktober lalu belum cukup menghentikan penderitaan warga sipil. Paus Leo XIV menegaskan kembali komitmen Vatikan terhadap solusi dua negara sebagai kerangka kelembagaan bagi Israel dan Palestina. Ia menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya kekerasan di Tepi Barat, termasuk serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina dan proyek pemukiman baru yang berpotensi memecah wilayah itu menjadi dua bagian—sebuah langkah yang dinilainya kian menjauhkan harapan perdamaian.
Bagi Paus Leo XIV, akar persoalan dunia hari ini juga terletak pada terkikisnya prinsip-prinsip pasca-Perang Dunia II. Larangan penggunaan kekerasan untuk melanggar kedaulatan negara lain tak lagi dihormati. Perdamaian, yang seharusnya menjadi tujuan luhur, kini dicari melalui senjata demi menegaskan kekuasaan. “Ini sangat mengancam supremasi hukum, fondasi kehidupan sipil yang damai,” katanya.
Takhta Suci, tegas Paus, mengecam segala bentuk keterlibatan warga sipil dalam operasi militer. Martabat manusia dan kesucian hidup, menurutnya, harus selalu ditempatkan di atas kepentingan nasional semata.
Di luar isu perang, Paus Leo XIV juga menyinggung krisis keluarga—unit sosial yang ia sebut tengah menghadapi dua tantangan krusial. Di satu sisi, peran sosial keluarga kian diremehkan dalam sistem internasional. Di sisi lain, semakin banyak keluarga rapuh yang terjerat kekerasan dan penderitaan internal.
Pidato itu ditutup dengan seruan melawan polarisasi dan ajakan membangun manusia secara utuh—melalui keadilan, kebenaran, dan kebebasan. Paus juga mengingatkan dampak teknologi modern, dari kecerdasan buatan hingga konsumerisme, yang jika tak diiringi literasi dan etika, dapat memperlebar jurang ketidakadilan.
“Perdamaian,” kata Paus Leo XIV, “memang sulit. Namun tetap realistis, bila kita memiliki kerendahan hati dan keberanian untuk mencarinya”

