Jakarta (tutur.co.id) – Fenomena childfree atau keputusan untuk tidak memiliki anak semakin sering dibahas di media sosial, terutama di kalangan Gen Z. Dulu, menikah dan punya anak dianggap sebagai “jalan hidup normal” bagi hampir semua orang. Namun sekarang, semakin banyak anak muda yang mulai mempertanyakan apakah mereka benar-benar ingin menjadi orang tua di masa depan.
Dilansir dari jurnal Fenomena Childfree Dalam Perspektif Generasi Z karya Innocentia Armabella Lastika dkk, tren childfree di kalangan Gen Z berkembang karena pengaruh media sosial, kondisi ekonomi, trauma masa lalu, hingga perasaan belum siap secara mental maupun finansial untuk memiliki anak. Banyak generasi muda mulai melihat bahwa menjadi orang tua bukan lagi kewajiban sosial, melainkan pilihan hidup yang harus dipikirkan matang-matang.
Fenomena childfree sendiri sebenarnya bukan hal baru. Istilah ini mulai populer di Amerika Serikat pada tahun 1970-an lewat gerakan National Organization for Non-Parents, organisasi yang mendukung pasangan menikah yang secara sadar memilih tidak memiliki anak. Dari Amerika, konsep childfree kemudian menyebar ke berbagai negara dan semakin dikenal luas sejak munculnya media sosial dan komunitas online yang membahas gaya hidup tersebut.
Saat ini, tren childfree dan penurunan angka kelahiran paling ekstrem banyak terjadi di Asoa Timur. Berdasarkan data fertilitas global 2026, Macau, Hong Kong, dan Korea Selatan menjadi wilayah dengan tingkat kelahiran terendah di dunia. Korea selatan sendiri sempat mencatat tingkat fertilitas hanya sekitar 0,72 pada 2023 dan naik menjadi 0,80 pada 2025, namun tetap menjadi salah satu yang terendah secara global.
Banyak anak muda di negara-negara tersebut mengaku tidak ingin punya anak karena biaya hidup yang sangat tinggi, harga rumah mahal, tekanan kerja ekstrem, hingga ketidakpastian masa depan. Reuters melaporkan bahwa pemerintah Korea Selatan bahkan terus mengeluarkan berbagai insentif untuk mendorong warganya memiliki anak, tetapi tren penurunan kelahiran masih sulit dibalikkan.
Jepang juga mengalami fenomena serupa. Jumlah kelahiran di Jepang kembali mencetak rekor terendah pada 2025 dan menjadi penurunan selama 10 tahun berturut-turut. Banyak generasi muda di Jepang kini lebih memilih fokus pada karier, kebebasan hidup, kesehatan mental, atau merasa belum siap menghadapi tanggung jawab besar sebagai orang tua.
Di Indonesia sendiri, tren childfree mulai ramai dibahas dalam beberapa tahun terakhir, terutama di TikTok, X, dan YouTube. Banyak Gen Z merasa kondisi ekonomi sekarang membuat mereka ragu memiliki anak. Harga rumah yang semakin mahal, biaya pendidikan tinggi, dan sulitnya mencari kestabilan finansial membuat sebagian orang merasa menjadi orang tua bukan keputusan yang bisa diambil secara sembarangan.
Meski begitu, fenomena childfree masih memunculkan pro dan kontra di Indonesia. Sebagian orang menganggap keputusan tidak punya anak adalah hak pribadi, sementara yang lain merasa pilihan tersebut bertentangan dengan nilai budaya dan ekspektasi keluarga. Namun satu hal yang jelas, tren ini menunjukkan bahwa cara pandang Gen Z terhadap pernikahan, keluarga, dan masa depan memang mulai berubah dibanding generasi sebelumnya.

