Jakarta (tutur.co.id)- Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global terhadap dolar AS.
Langkah tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6). Wakil Ketua DPR RI mengatakan rapat tersebut menjadi forum evaluasi sekaligus penguatan sinergi antara otoritas fiskal dan moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Dan alhamdulillah, hasil koordinasi pada hari ini telah menghasilkan beberapa kesepakatan,” kata Dasco berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Redaksi Tutur.
Gubernur BI menjelaskan, terdapat dua strategi utama yang disepakati untuk memperkuat stabilitas rupiah terhadap dolar AS.
Strategi pertama adalah meningkatkan daya tarik imbal hasil instrumen surat utang, baik Surat Berharga Negara (SBN) maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), guna mendorong arus modal asing masuk atau capital inflow.
Menurut Perry, langkah tersebut diperlukan untuk memperbesar pasokan valuta asing di dalam negeri, menjaga kepercayaan pasar, serta mengantisipasi potensi capital outflow di tengah kenaikan imbal hasil surat utang global.
BI sebelumnya telah menaikkan suku bunga SRBI pada tenor 6, 9, dan 12 bulan menjadi masing-masing 6,21 persen, 6,31 persen, dan 6,45 persen. Sementara itu, Kementerian Keuangan mencatat imbal hasil SBN tetap stabil pada awal Juni, yakni 6,67 persen untuk SBN rupiah dan 5,42 persen untuk SBN dolar AS.
Data Kementerian Keuangan menunjukkan SRBI mencatat net inflow sebesar Rp99,9 triliun sejak awal tahun hingga 3 Juni 2026. Adapun SBN sempat mengalami net outflow Rp10,8 triliun, namun kembali membukukan net inflow Rp70,1 triliun sejak 1 April hingga 3 Juni 2026.
“Oleh karena itu, fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflow ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry.
Strategi kedua adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan melalui pengelolaan kas pemerintah oleh BI dengan pemberian bunga yang lebih tinggi kepada pemerintah.
Perry menegaskan koordinasi fiskal dan moneter akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai dinamika global dan domestik.
Senada, Menteri Keuangan mengatakan pemerintah akan memastikan sinergi kebijakan fiskal dan moneter berjalan erat agar dapat mengembalikan kepercayaan pasar terhadap rupiah.
“Kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, sinergi penuh, itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai rupiah,” kata Purbaya.

