Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang bangkit pada perdagangan Jumat (5/6/2026) setelah mengalami tekanan hebat dalam beberapa hari terakhir. Namun, peluang rebound tersebut diperkirakan masih dibayangi volatilitas tinggi seiring pelemahan rupiah dan derasnya arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan IHSG berpotensi mengalami technical rebound menuju level 5.941 selama mampu bertahan di atas area support kuat pada level 5.644.
“Namun penguatan tersebut kemungkinan masih bersifat jangka pendek selama belum ada perubahan signifikan terhadap sentimen utama yang menekan pasar, terutama terkait stabilisasi rupiah dan arus modal asing. Dengan kata lain, peluang kenaikan masih terbuka, tetapi volatilitas diperkirakan tetap tinggi,” ujar Hendra, Kamis (4/6/2026).
Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), IHSG ditutup melemah 1,71% ke level 5.839,79. Sebelumnya, indeks sempat merosot lebih dari 5% pada sesi pagi dan menyentuh level intraday terendah di 5.644.
Di saat yang sama, nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, mencetak titik terendah baru dan memperkuat kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasar keuangan domestik.
Menurut Hendra, kondisi tersebut mencerminkan tingginya ketidakpastian yang masih membayangi pasar. Investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko sambil menunggu kejelasan arah kebijakan ekonomi dan perkembangan berbagai sentimen yang memengaruhi pasar.
Tekanan juga datang dari sisi aliran modal asing. Investor asing kembali mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sekitar Rp1,43 triliun pada perdagangan Kamis. Dengan tambahan tersebut, akumulasi dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia sejak awal tahun mencapai sekitar Rp68,5 triliun.
“Angka ini tergolong sangat besar dan menjadi salah satu penyebab utama tekanan terhadap IHSG dan rupiah,” kata Hendra.
Ia menjelaskan bahwa keluarnya dana asing dalam jumlah besar menyebabkan likuiditas pasar berkurang dan minat beli terhadap saham menurun. Selain itu, kebutuhan konversi dana ke mata uang asing turut memperbesar tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Di tengah kondisi tersebut, pasar juga sempat diwarnai rumor mengenai kemungkinan Indonesia turun kelas dari kategori emerging market menjadi frontier market dalam klasifikasi MSCI. Namun, Hendra menegaskan informasi tersebut tidak sesuai dengan fakta.
Berdasarkan MSCI Global Investable Market Indexes Methodology edisi Mei 2026, Indonesia hingga saat ini masih berstatus emerging market. Pelaku pasar kini menantikan dua agenda penting, yakni MSCI Global Market Accessibility Review pada 19 Juni 2026 dan MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026.
“Meskipun isu penurunan status tersebut telah dibantah, rumor yang beredar tetap berhasil meningkatkan kekhawatiran investor dan memperburuk sentimen pasar dalam jangka pendek,” ujarnya.
Selain sentimen domestik, tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia juga berasal dari faktor global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga energi dunia, serta ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat membuat investor global semakin selektif dalam menempatkan dana pada aset berisiko.
“Dalam kondisi seperti ini, negara berkembang dengan risiko yang dianggap lebih tinggi biasanya menjadi sasaran pertama aksi pengurangan portofolio oleh investor internasional,” kata Hendra.
Meski demikian, menurut dia, persoalan utama yang dihadapi pasar saat ini bukan semata-mata faktor eksternal. Investor global juga mencermati tingkat kepastian dan kredibilitas kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah.
Karena itu, upaya mengembalikan kepercayaan investor menjadi faktor kunci bagi pemulihan pasar ke depan. Langkah menjaga disiplin fiskal, memperkuat stabilitas rupiah, meningkatkan transparansi kebijakan, serta menciptakan kepastian regulasi dinilai menjadi fondasi penting untuk meredakan tekanan di pasar keuangan.
“Investor pada akhirnya tidak hanya melihat narasi optimisme, tetapi juga menilai konsistensi kebijakan dan hasil nyata yang tercermin dalam data ekonomi. Ketika kepercayaan mulai pulih, arus modal berpotensi kembali masuk, rupiah dapat lebih stabil, dan IHSG memiliki peluang membangun fondasi pemulihan yang lebih kuat pada semester kedua 2026,” pungkas Hendra.

