Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Lokasi Layanan SIM Keliling 15 Juni 2026
  • Samuel Sekuritas: Worst is Over, Saham Bank dan Emiten Berbasis Dolar Siap Melaju
  • Real Madrid Capai Kesepakatan Rekrut Marc Cucurella dari Chelsea
  • Lokasi Layanan Samsat Keliling 15 Juni 2026
  • Investasi Asing Mengalir Deras, Prabowo Minta Data Dibuka ke Publik
  • IHSG Berpotensi Fluktuatif Pekan Ini, Phintraco Jagokan RATU, CUAN dan 4 Saham Ini
  • Bungkam Wakil China, Alwi Farhan Juara Australian Open 2026
  • BI-Rate Naik, SUN Kembali Menggoda Investor Asing, Tapi Belum Jadi Obat Mujarab
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Market»BI-Rate Naik, SUN Kembali Menggoda Investor Asing, Tapi Belum Jadi Obat Mujarab

BI-Rate Naik, SUN Kembali Menggoda Investor Asing, Tapi Belum Jadi Obat Mujarab

Market Gusti Tetiro15 Juni 2026 / 05:50 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Gubernur BI Perry Warjiyo (Foto: Tutur/ Bakom RI)
Gubernur BI Perry Warjiyo (Foto: Tutur/ Bakom RI)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) — Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) dinilai mulai membuka peluang kembalinya minat investor asing ke pasar Surat Utang Negara (SUN). Namun, langkah moneter yang agresif tersebut diperkirakan lebih berfungsi sebagai instrumen stabilisasi jangka pendek ketimbang solusi permanen untuk mengembalikan arus modal asing ke pasar obligasi domestik.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendi Manilet menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate merupakan respons yang tepat di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih tinggi akibat ketidakpastian global dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Menurut Yusuf, kenaikan suku bunga tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga meningkatkan daya tarik instrumen keuangan berdenominasi rupiah, termasuk Surat Utang Negara (SUN), di mata investor global.

“Kenaikan BI-Rate tetap merupakan langkah yang tepat untuk mendorong kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, terutama dalam kondisi tekanan terhadap rupiah yang cukup kuat,” ujar Yusuf, Minggu (14/6/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan suku bunga berpotensi memperbaiki keseimbangan antara risiko dan tingkat imbal hasil (yield) yang menjadi pertimbangan utama investor dalam menentukan alokasi portofolio mereka. Dengan yield SUN yang relatif tinggi dibandingkan banyak negara lain, Indonesia masih memiliki daya tarik di tengah ketidakpastian pasar global.

Meski demikian, Yusuf mengingatkan bahwa keputusan investor asing tidak hanya ditentukan oleh tingkat suku bunga. Faktor lain seperti stabilitas nilai tukar, kondisi fiskal pemerintah, arah kebijakan moneter global, hingga perkembangan geopolitik juga memiliki pengaruh yang signifikan.

“Bagi investor asing, imbal hasil yang diterima dihitung dalam dolar AS. Karena itu ketika volatilitas rupiah meningkat, kenaikan suku bunga perlu disertai keyakinan bahwa nilai tukar dapat lebih stabil,” katanya.

Baca Juga  Mudik Sambil Berwisata ke Yogya dan Solo dengan Kereta Panoramic

Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Mei 2026 dan kembali menaikkannya 25 basis poin menjadi 5,50% pada Juni 2026. Secara kumulatif, suku bunga acuan telah naik 75 basis poin dalam dua bulan terakhir sebagai upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global yang dipicu konflik Timur Tengah.

Dalam kondisi tersebut, SUN masih menawarkan imbal hasil yang kompetitif dibandingkan instrumen obligasi negara lain. Jika stabilitas rupiah dapat dipertahankan, peluang masuknya kembali dana asing ke pasar obligasi Indonesia dinilai semakin terbuka.

Yusuf menilai kebijakan moneter yang lebih ketat juga berpotensi memperbaiki sentimen pasar sekaligus menahan tekanan jual yang sempat terjadi akibat pelemahan rupiah dan meningkatnya ketidakpastian global.

“Dengan stabilitas rupiah yang lebih terjaga, investor memiliki ruang untuk kembali mempertimbangkan SUN sebagai instrumen yang menawarkan yield relatif menarik dibandingkan banyak negara lain,” ujarnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa pergerakan yield SUN tetap akan sangat dipengaruhi oleh persepsi investor terhadap risiko fiskal pemerintah dan kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang masih besar.

Karena itu, kenaikan BI-Rate belum tentu langsung menurunkan yield SUN secara signifikan. Setidaknya, kebijakan tersebut dapat menjadi bantalan yang membantu mencegah kenaikan yield yang lebih tajam apabila tekanan pasar kembali meningkat.

Yusuf juga mengingatkan bahwa struktur pasar Surat Berharga Negara (SBN) saat ini telah berubah dibandingkan beberapa tahun lalu. Porsi kepemilikan asing dalam obligasi pemerintah terus menurun, sehingga pengaruh langsung kebijakan suku bunga terhadap permintaan SUN tidak lagi sekuat sebelumnya.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti efektivitas kebijakan Bank Indonesia berkurang. Kenaikan suku bunga tetap memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas pasar keuangan, memperkuat kepercayaan investor, serta membuka peluang masuknya kembali dana asing ke pasar domestik.

Baca Juga  Rupiah Loyo, Apa yang Akan Terjadi dengan Indonesia?

Menurut Yusuf, investor asing dalam jangka pendek kemungkinan akan lebih tertarik pada obligasi tenor pendek yang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga. Sementara itu, minat terhadap obligasi tenor panjang masih akan ditentukan oleh perkembangan fiskal, prospek inflasi, serta arah pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa kuartal mendatang.

Dengan kata lain, kenaikan BI-Rate memang memperkuat daya tarik SUN, tetapi belum cukup untuk menjadi faktor tunggal yang mengembalikan derasnya aliran modal asing. Stabilitas rupiah, disiplin fiskal, dan kejelasan arah kebijakan ekonomi tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

bi rate headline investor asing Rupiah SUN
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleSwedia vs Tunisia: Pertahanan Keropos Lawan Kutukan Menahun
Next Article Bungkam Wakil China, Alwi Farhan Juara Australian Open 2026

Berita Lainnya

Samuel Sekuritas: Worst is Over, Saham Bank dan Emiten Berbasis Dolar Siap Melaju

15 Juni 2026 / 08:10 WIB

Investasi Asing Mengalir Deras, Prabowo Minta Data Dibuka ke Publik

15 Juni 2026 / 07:00 WIB

IHSG Berpotensi Fluktuatif Pekan Ini, Phintraco Jagokan RATU, CUAN dan 4 Saham Ini

15 Juni 2026 / 06:38 WIB

Swedia vs Tunisia: Pertahanan Keropos Lawan Kutukan Menahun

15 Juni 2026 / 05:00 WIB

Kiandra Ramadhipa Sukses Juarai Moto3 Junior Portugal

15 Juni 2026 / 00:35 WIB

Fenomena Kursi Kosong dan Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

14 Juni 2026 / 21:00 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Panglima Iran: Tidak Ada Pasukan AS Selamat Jika Invasi Darat Terjadi

Deba Salamah03 April 2026 / 04:00 WIB

Lokasi Layanan SIM Keliling 15 Juni 2026

15 Juni 2026 / 08:10 WIB

Samuel Sekuritas: Worst is Over, Saham Bank dan Emiten Berbasis Dolar Siap Melaju

15 Juni 2026 / 08:10 WIB

Real Madrid Capai Kesepakatan Rekrut Marc Cucurella dari Chelsea

15 Juni 2026 / 08:00 WIB

Lokasi Layanan Samsat Keliling 15 Juni 2026

15 Juni 2026 / 07:55 WIB

Investasi Asing Mengalir Deras, Prabowo Minta Data Dibuka ke Publik

15 Juni 2026 / 07:00 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.