Jakarta (tutur.co.id) – Mama Yasinta Moiwend atau yang akrab disapa dengan Mama Sinta kini tengah menjadi buah bibir. Sosok pejuang lingkungan dari Suku Marind Anim Merauke, Papua Selatan tiba-tiba seakan berbalik arah terkait sikapnya dalam film dokumenter Pesta Babi.
Yasinta Moiwend memang menjadi salah satu sosok sentral dalam film dokumenter karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale. Dalam film berdurasi 1,5 jam lebih itu dinarasikan tanah adat Mama Yasinta Moiwend diserobot pemerintah lewat Proyek Strategis Nasional (Food Estate).
Wajah Mama Yasinta berkali-kali menghiasi film tersebut termasuk dalam flyer promosi. Bahkan ia juga beberapa kali juga menghadiri acara pemutaran film ini termasuk di beberapa lokasi di luar Papua.
Namun kini Mama Yasinta berbalik arah. Ia mengaku tak mendapat apa-apa dari film ini dan merasa dimanfaatkan. Ia juga mendesak agar film dokumenter Pesta Babi ini segera dihentikan. Perubahan sikap yang langsung membuat geger.
“Saya minta film itu dihentikan karena itu tanpa izin saya. Kenapa saya punya wajah ditampil terus. Saya tidak mau, karena itu tanpa izin saya. Terus mereka putar film itu dimana-mana, apa yang saya dapat,” kata Mama Yasinta.

Redaksi mencoba merangkum point-point penting sikap dari Mama Yasinta dari berbagai sumber. Apa saja itu?
Pertama, ia merasa kecewa terhadap LBH Papua Pusaka karena merasa dimanfaatkan dengan menyeret Namanya dalam penolakan Proyek Strategis Nasional (PSN) lumbung pangan di Papua Selatan. Ia tak terima wajahnya digunakan dalam film Pesta Babi tanpa izin.
Kedua, ia juga telah mengundurkan diri dari LBH dan lebih memilih untuk mencari pekerjaan di perusahaan untuk memperbaiki rumahnya yang tidak layak.
Ketiga, Mama Yasinta juga menegaskan dirinya termasuk ketiga anaknya sangat membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia berharap pemerintah atau perusahaan dapat membantunya.
Keempat, ia menegaskan bahwa selama enam bulan mondar-mandir bersama LBH ke Jayapura, Makassar, dan Jakarta, untuk acara pemutaran film, ia hanya mendapat uang duduk Rp1,5–2 juta, tanpa hasil nyata bagi kehidupannya.
Kelima, Mama Yasinta juga telah meminta maaf kepada pemerintah terutama terkait pernyataan-pernyataan pedasnya yang menyerang pembangunan PSN. Menurutnya itu bukan kemauan pribadi melainkan desakan pihak LBH.
Keenam, Ia juga berbalik mendukung PSN di Papua Selatan dan berharap perusahaan yang bekerja sama dengan pemerintah bisa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

