Jakarta (tutur.co.id) — Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, memastikan pemerintah mampu menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap di bawah 3% meski tekanan global meningkat.
Ia menegaskan, posisi defisit fiskal saat ini masih berada dalam batas aman, bahkan dalam kondisi ekstrem.
“Perhitungan kami menunjukkan, bahkan dalam skenario terburuk dengan harga minyak mentah rata-rata sekitar US$100 per barel tahun ini, langkah-langkah ini tetap dapat menjaga defisit fiskal di kisaran 2,9 persen,” ujarnya dalam acara Fitch Ratings Annual Indonesia Conference di Jakarta, Kamis.
Menurut Juda, hingga saat ini harga minyak mentah Indonesia (ICP) masih berada di kisaran US$79 per barel. Namun, gejolak geopolitik global—terutama konflik di Timur Tengah—tetap memberikan tekanan terhadap perekonomian domestik, salah satunya melalui kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Ia mengingatkan, setiap kenaikan harga minyak memiliki dampak langsung terhadap defisit anggaran. Berdasarkan perhitungan pemerintah, kenaikan US$1 per barel dapat menambah sekitar Rp6,8 triliun terhadap defisit fiskal.
“Konflik di Timur Tengah telah mengirimkan guncangan ke pasar energi global. Harga minyak melonjak, inflasi meningkat, khususnya pada sektor pangan dan energi, serta sentimen investor turut berubah,” jelasnya.
Untuk menjaga ketahanan fiskal, pemerintah menyiapkan sejumlah strategi utama.
Pertama, meningkatkan efisiensi belanja, khususnya pada program prioritas seperti Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kedua, memperkuat pembiayaan inovatif melalui optimalisasi pengelolaan portofolio serta pendalaman pasar keuangan domestik.
Ketiga, meningkatkan penerimaan negara, terutama dari sektor perpajakan. Upaya ini dilakukan melalui digitalisasi sistem pajak lewat Coretax, optimalisasi penerimaan dari kenaikan harga komoditas, serta perbaikan pengelolaan restitusi pajak.
Selain itu, pemerintah juga mengoptimalkan peran Badan Pengelola Investasi Danantara sebagai sumber pembiayaan alternatif di luar APBN.
Dengan kombinasi strategi tersebut, pemerintah optimistis stabilitas fiskal tetap terjaga di tengah tekanan global yang masih berlanjut.

