Jakarta (tutur.co.id) — Pasar saham Indonesia masih berada dalam tekanan sepanjang tahun berjalan. Berbagai sentimen negatif, mulai dari kebijakan pemerintah yang menuai respons negatif pelaku pasar, pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, hingga penundaan tinjauan indeks FTSE Russell, membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk.
Meski demikian, UOB Kay Hian melihat peluang investasi mulai terbuka di tengah koreksi pasar yang dalam. Broker tersebut merekomendasikan tujuh saham pilihan yang dinilai berpotensi memberikan imbal hasil menarik saat pasar memasuki fase pemulihan.
Berdasarkan riset UOB Kay Hian, IHSG terkoreksi 15,9% sepanjang Mei 2026. Sementara itu, portofolio saham pilihan broker tersebut mencatat penurunan lebih dalam, yakni 27,5%, atau mengalami underperform sekitar 12% dibandingkan pergerakan indeks.
Tekanan pasar pada Mei dipicu oleh keputusan FTSE Russell yang menunda full index re-ranking, penambahan saham baru, serta kenaikan free float saham-saham Indonesia setidaknya hingga evaluasi September 2026. Keputusan tersebut memicu aksi jual besar-besaran oleh investor.
Tekanan semakin meningkat setelah pemerintah mengumumkan kebijakan sentralisasi ekspor tiga komoditas utama pada 20 Mei 2026.
“Kebijakan ini meruntuhkan keyakinan investor,” tulis UOB Kay Hian dalam risetnya yang dikutip Kamis (4/6/2026).
Di sisi lain, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) bahkan telah menembus 6,9%. Namun langkah tersebut belum mampu membendung pelemahan rupiah yang terus memberikan tekanan terhadap pasar saham domestik.
Meski demikian, UOB Kay Hian menilai peluang pemulihan mulai terbuka pada Juni 2026. Secara historis, pasar saham Indonesia cenderung mengalami rebound setelah koreksi tajam pada Mei. Berdasarkan pola musiman, pemulihan sekitar 50% biasanya terjadi pada Juni dan berlanjut hingga 100% pada Juli dan Agustus.
Pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah agenda penting yang berpotensi menjadi katalis pasar pada bulan ini. Beberapa di antaranya adalah pengumuman peringkat utang Indonesia oleh S&P Global Ratings, rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh, rebalancing indeks FTSE Russell, serta hasil peninjauan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI.
Di tengah tingginya volatilitas, UOB Kay Hian merekomendasikan tujuh saham unggulan untuk Juni 2026, yakni PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Elnusa Tbk (ELSA), dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP).
Rinciannya, saham ASII direkomendasikan buy dengan target harga Rp7.100. BMRI direkomendasikan hold dengan target Rp5.150. Sementara BULL direkomendasikan buy dengan target harga Rp750, CMRY buy dengan target Rp6.400, DEWA buy dengan target Rp1.375, ELSA buy dengan target Rp1.450, dan INKP buy dengan target Rp15.700.
Dari seluruh saham tersebut, UOB Kay Hian menilai BULL, DEWA, ELSA, dan INKP menawarkan potensi kenaikan paling menarik dibandingkan harga pasar saat ini. Keempat saham tersebut berpeluang menjadi pilihan utama investor yang ingin memanfaatkan momentum pemulihan pasar apabila sentimen negatif mulai mereda pada paruh kedua tahun ini.

