New Jersey (Tutur.co.id) – Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, menegaskan timnya memahami bagaimana menerima kekalahan dengan lapang dada setelah gagal mempertahankan gelar juara piala dunia. Meski harus mengakui keunggulan Spanyol, Scaloni tetap bangga dengan perjuangan para pemainnya yang berhasil membawa Albiceleste kembali menembus laga puncak.
Argentina harus mengubur mimpi meraih gelar Piala Dunia secara beruntun setelah gol Ferran Torres pada menit ke-106 babak perpanjangan waktu memastikan kemenangan Spanyol. Hasil tersebut sekaligus mengakhiri perjalanan impresif Lionel Messi dan kolega di turnamen.
Meski kecewa dengan hasil akhir, Scaloni menilai para pemainnya telah memberikan segalanya sepanjang turnamen. Baginya, keberhasilan mencapai final sudah menjadi pencapaian yang patut diapresiasi, mengingat beratnya perjalanan yang harus dilalui Argentina.
La Albiceleste harus melewati sejumlah laga fase gugur yang penuh tekanan, termasuk kemenangan dramatis atas Inggris di semifinal, sebelum akhirnya bertemu Spanyol di partai puncak.
Pada laga final, Argentina benar-benar berada di bawah tekanan. Sepanjang 90 menit waktu normal, Lionel Messi dan rekan-rekannya gagal melepaskan satu pun tembakan. Situasi semakin sulit setelah Enzo Fernandez menerima kartu kuning kedua pada masa injury time babak kedua sehingga Argentina harus menyelesaikan pertandingan dengan 10 pemain.
Meski berusaha memaksakan laga hingga adu penalti, gol Torres di babak tambahan waktu memastikan Spanyol keluar sebagai juara dunia. Scaloni mengakui kekalahan tersebut terasa menyakitkan. Namun, ia menegaskan timnya tetap bisa menerima hasil tersebut dengan sikap yang dewasa.
“Ini memang menyakitkan, tetapi kami sudah memberikan segalanya. Saya sebenarnya memiliki banyak hal yang ingin saya sampaikan tentang perjalanan kami sampai di sini, tetapi sekarang bukan waktu yang tepat,” ujar Scaloni kepada TyC Sports.
Menurut Scaloni, sebuah tim besar tidak hanya dinilai dari kemampuannya meraih kemenangan, tetapi juga dari cara mereka menyikapi kekalahan. Ia berharap perjuangan para pemainnya dapat menjadi contoh bagi masyarakat Argentina.
“Kami menerima kekalahan ini. Para pemain sudah memberikan semua yang mereka miliki di lapangan. Jika mereka sudah berjuang seperti hari ini, maka itu adalah contoh yang baik bagi rakyat dan negara kami.”
Scaloni kemudian menegaskan pesan yang ingin ia sampaikan setelah final Piala Dunia 2026. Pelatih berusia 48 tahun itu juga menolak menyalahkan anak asuhnya. Menurutnya, para pemain telah memperlihatkan komitmen maksimal sepanjang turnamen.
“Dalam sepak bola, Anda bisa kalah dan kemudian harus bangkit lagi. Hari ini kami menunjukkan bahwa kami tahu bagaimana menerima kekalahan. Anda bisa bermain bagus atau buruk, tetapi ketika semua orang memberikan kemampuan terbaiknya, sangat sulit mencari kesalahan,” tandas Scaloni.
Pernyataan Scaloni tentang pentingnya menerima kekalahan justru berbanding terbalik dengan insiden yang terjadi setelah peluit panjang dibunyikan. Sejumlah pemain Argentina terlibat keributan dengan pemain Spanyol di tengah lapangan. Bek Nahuel Molina dilaporkan melayangkan pukulan kepada kapten Spanyol, Rodri, yang kemudian memicu memanasnya situasi.
Tak lama berselang, Leandro Paredes juga terlihat mendorong dan mencekik gelandang muda Spanyol, Gavi, hingga terjatuh ke lapangan. Insiden tersebut sempat mencuri perhatian dan sedikit mengganggu momen perayaan gelar juara Spanyol.

