Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • PGE Raup Pendanaan Internasional Rp7,7 Triliun untuk Tiga Proyek Panas Bumi
  • Purbaya Wajibkan Transaksi Pelabuhan Gunakan Rupiah: Kalau Dolar, Langsung Saya Hajar
  • Tutur PoV: Perjalanan Luar Negeri Presiden dan Kritik Akuntabilitas Anggaran
  • 4 Tahun Luput dari Radar KPK, Begini Cara Silmy Karim Dkk Sembunyikan Uang Pemerasan
  • Opini: Ketika Trust Ambruk dan Angka Tak Lagi Menolong
  • Kenapa Banyak Gen Z Memilih Childfree? Ternyata Bukan Sekadar Tidak Suka Anak
  • Siap-siap Kontainer Parkir Lama di Pelabuhan Tanjung Priok Terancam Denda Besar
  • PGN Perkuat Ketahanan Bisnis dan Siapkan Fondasi Pertumbuhan Jangka Panjang
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Politik»Tutur PoV: Perjalanan Luar Negeri Presiden dan Kritik Akuntabilitas Anggaran

Tutur PoV: Perjalanan Luar Negeri Presiden dan Kritik Akuntabilitas Anggaran

Politik Adi P06 Juni 2026 / 19:20 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Ilustrasi Polemik tentang kritik diplomat senior Dino Patti Djalal dengan Seskab Teddy Indra WIjaya tentang Perjalanan Dinas Luar Negeri Presiden. (Grafis: Tutur/Adi P Diolah dengan AI)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Polemik antara diplomat senior Dino Patti Djalal dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya sesungguhnya bukan sekadar perdebatan personal. Yang dipersoalkan adalah akuntabilitas penggunaan uang negara di tengah situasi ekonomi negara yang sedang tidak baik-baik saja.

Dino mengkritik tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang dinilai berpotensi membebani APBN. Kritik itu muncul bukan tanpa alasan. Hingga akhir Mei 2026, Presiden Prabowo tercatat telah melakukan 54 kunjungan luar negeri ke sedikitnya 29 negara di Asia, Eropa, dan Amerika. Dalam sekitar 19 bulan (sekitar 570 hari) masa pemerintahannya, Presiden menghabiskan setidaknya 134 hari berada di luar negeri.

Data tersebut menjadi sorotan karena terjadi di tengah kebijakan pemerintah yang meminta rakyat berhemat. Belanja negara dipangkas, perjalanan dinas dibatasi, dan semua program pemerintah pusat dan daerah dipotong anggarannya. Efisiensi. Dalam konteks itu, kritik untuk mengurangi frekuensi perjalanan luar negeri dan pertanyaan mengenai biaya diplomasi Presiden menjadi pertanyaan yang wajar dan sah dalam negara demokrasi. Bahkan, ketika kritik dan pertanyaan itu diajukan oleh seorang “Dino lain” yang rakyat biasa sekalipun.

Sayangnya, respons Istana justru bergeser dari substansi yang dipersoalkan. Seskab Teddy Indra Wijaya memilih memaparkan berbagai capaian diplomasi, mulai dari keanggotaan BRICS, kerja sama ekonomi dengan Uni Eropa, masuknya investasi, hingga pembebasan warga negara Indonesia yang menghadapi masalah di luar negeri. Semua itu bisa menjadi capaian penting, tetapi tidak menjawab substansi pertanyaan publik mengenai besarnya biaya yang ditanggung negara.

Dalam teori komunikasi politik, respons semacam ini dikenal sebagai issue shifting atau pengalihan isu. Publik bertanya soal anggaran, pemerintah menjawab soal hasil. Keduanya tidak berada pada ranah yang sama. Sebab keberhasilan diplomasi dan akuntabilitas anggaran adalah dua hal yang sama-sama wajib dijelaskan.

Baca Juga  KPK Bicara Soal Lemahnya Kaderisasi Partai, Mahar Politik hingga Korupsi

Yang lebih problematik adalah pernyataan Teddy bahwa biaya perjalanan yang melebihi pagu anggaran negara, kelebihannya ditanggung menggunakan dana pribadi Presiden. Secara politik, pernyataan itu mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan pengorbanan pribadi Presiden. Namun dari perspektif tata kelola pemerintahan, logika tersebut justru menimbulkan pertanyaan baru.

Presiden sedang menjalankan tugas negara, bukan urusan pribadi. Karena itu, pembiayaan tugas kenegaraan semestinya menggunakan mekanisme keuangan negara yang resmi, transparan, dan dapat diaudit. Negara tidak boleh bergantung pada kemampuan finansial atau kemurahan hati individu yang sedang menjabat.

***

Prinsip yang berlaku sederhana saja: urusan negara dibiayai negara, urusan pribadi dibiayai pribadi. Batas itu tidak boleh kabur. Apalagi kalau sampai yang terjadi malah sebaliknya: urusan negara dibayar pribadi, sementara kegiatan yang bersifat sangat personal seperti ibadah kurban justru menggunakan uang negara.

Persoalan lain muncul ketika kritik Dino dibalas Teddy dengan menyinggung masa jabatan Dino sebagai Wakil Menteri Luar Negeri dengan menyebut: “Walau hanya tiga bulan menjabat”. Dalam teori debat, sejumlah ahli komunikasi menilai sebagai mendekati pola ad hominem—menyerang latar belakang pengkritik alih-alih menjawab argumennya. Strategi seperti ini mungkin efektif di media sosial, tetapi kurang tepat jika dilakukan oleh institusi kepresidenan yang seharusnya menjadi teladan komunikasi publik.

Istana sebenarnya memiliki cara yang jauh lebih elegan untuk mengakhiri polemik ini: membuka data. Berapa total biaya kunjungan luar negeri Presiden? Berapa nilai investasi yang benar-benar terealisasi (bukan janji ya)? Apa indikator keberhasilan yang dapat diverifikasi publik? Transparansi seperti itulah yang akan memperkuat legitimasi diplomasi Presiden, bukan membawa menjadi polemik personal.

Redaksi Tutur berpandangan, diplomasi kepala negara memang penting dan sering kali tidak tergantikan. Namun semakin besar biaya yang dikeluarkan, semakin besar pula kewajiban pemerintah untuk menjelaskan manfaatnya. Dalam demokrasi, kritik bukan ancaman. Ia adalah mekanisme pengawasan.

Baca Juga  Cerita Lucu Jemaah Haji Kedinginan, Padahal yang Lain Kepanasan

Karena itu, kritik soal anggaran, tidak cukup dijawab dengan daftar prestasi. Kritik anggaran harus dijawab dengan data. Sebab yang dipertanyakan publik bukan hanya ke mana Presiden pergi, melainkan berapa biaya yang dibayar rakyat dan apa manfaat yang kembali kepada rakyat.

***

apbn Dino Pati Djalal dino patti djalal headline Jubir Istana Prabowo Subianto Teddy Indra Wijaya tutur
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous Article4 Tahun Luput dari Radar KPK, Begini Cara Silmy Karim Dkk Sembunyikan Uang Pemerasan
Next Article Purbaya Wajibkan Transaksi Pelabuhan Gunakan Rupiah: Kalau Dolar, Langsung Saya Hajar

Berita Lainnya

Opini: Ketika Trust Ambruk dan Angka Tak Lagi Menolong

06 Juni 2026 / 18:30 WIB

Kenapa Banyak Gen Z Memilih Childfree? Ternyata Bukan Sekadar Tidak Suka Anak

06 Juni 2026 / 18:04 WIB

Skema Licik Silmy Karim Dkk Peras WNA hingga Terima Setoran Rp100 juta

06 Juni 2026 / 10:42 WIB

Ini 6 Ide Bekal Sekolah Bergizi yang Bisa Disiapkan Ibu

06 Juni 2026 / 10:15 WIB

Rumor Panas dari Korea: Shin Tae-yong Masuk Radar Persija Jakarta

06 Juni 2026 / 08:00 WIB

Penyakit Jantung Bisa Dicegah, Dokter Ungkap 5 Kebiasaan Sederhana yang Paling Berpengaruh

06 Juni 2026 / 05:02 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Konflik Iran, Trump dan Netanyahu Memang Butuh Perang

Toto Pribadi13 Maret 2026 / 17:14 WIB

PGE Raup Pendanaan Internasional Rp7,7 Triliun untuk Tiga Proyek Panas Bumi

06 Juni 2026 / 20:49 WIB

Purbaya Wajibkan Transaksi Pelabuhan Gunakan Rupiah: Kalau Dolar, Langsung Saya Hajar

06 Juni 2026 / 19:58 WIB

Tutur PoV: Perjalanan Luar Negeri Presiden dan Kritik Akuntabilitas Anggaran

06 Juni 2026 / 19:20 WIB

4 Tahun Luput dari Radar KPK, Begini Cara Silmy Karim Dkk Sembunyikan Uang Pemerasan

06 Juni 2026 / 19:13 WIB

Opini: Ketika Trust Ambruk dan Angka Tak Lagi Menolong

06 Juni 2026 / 18:30 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.