Jakarta (tutur.co.id) – Pernah merasa lebih mudah tersinggung atau marah hanya karena terlambat makan? Kondisi tersebut dikenal dengan istilah hangry, gabungan dari kata hungry dan angry yang menggambarkan perubahan emosi saat tubuh kekurangan energi.
Fenomena ini cukup umum terjadi dan memiliki penjelasan ilmiah yang berkaitan dengan kadar gula darah, hormon stres, hingga kondisi psikologis seseorang.
Kondisi hangry biasanya muncul ketika kadar glukosa atau gula darah dalam tubuh menurun akibat tubuh tidak mendapat asupan makanan dalam waktu cukup lama.
Glukosa merupakan sumber energi utama bagi otak. Ketika kadar gula darah turun, tubuh akan mengirimkan sinyal bahwa energi mulai menipis.
Sebagai respons, tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Kedua hormon tersebut dapat memicu rasa gelisah, mudah tersinggung, hingga meningkatkan emosi negatif.
Di saat yang sama, hormon ghrelin yang memicu rasa lapar juga meningkat. Kombinasi kondisi tersebut membuat kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi ikut menurun.
Kurangnya asupan energi tidak hanya memengaruhi kondisi fisik, tetapi juga fungsi otak dalam mengatur emosi dan pengambilan keputusan.
Saat tubuh kekurangan glukosa, kemampuan otak untuk mengontrol respons emosional menjadi melemah. Akibatnya, masalah kecil bisa terasa lebih mengganggu dibanding biasanya.
Itulah sebabnya seseorang yang lapar sering kali lebih sensitif, mudah kesal, atau bereaksi berlebihan terhadap situasi tertentu.
Fenomena hangry tidak dialami semua orang dengan tingkat yang sama. Selain faktor biologis, kondisi psikologis dan lingkungan juga ikut memengaruhi.
Ketika seseorang sedang stres, lelah, atau berada dalam situasi tidak nyaman, rasa lapar dapat memperkuat respons emosional negatif.
Dalam kondisi tersebut, otak menjadi lebih sulit membedakan apakah rasa tidak nyaman berasal dari tekanan psikologis atau kebutuhan tubuh akan makanan.
Akibatnya, emosi sering kali dilampiaskan kepada situasi atau orang lain tanpa disadari.
Untuk mencegah kondisi mudah marah akibat lapar, menjaga pola makan teratur menjadi langkah penting.
Mengonsumsi makanan bergizi seimbang seperti protein, lemak sehat, dan karbohidrat kompleks dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil lebih lama.
Selain itu, penting juga menjaga tubuh tetap terhidrasi dan menyiapkan camilan sehat saat memiliki aktivitas padat.
Memahami bahwa perubahan emosi bisa dipicu oleh kondisi fisik membantu seseorang lebih bijak dalam mengelola respons emosional sehari-hari.
Meski sering dianggap sepele, hangry menunjukkan bahwa kondisi tubuh dan emosi memiliki hubungan yang sangat erat.
Ketika kebutuhan energi tidak terpenuhi, tubuh dan otak akan memberikan sinyal melalui perubahan suasana hati. Karena itu, menjaga pola makan dan kesehatan fisik juga penting untuk menjaga kestabilan emosi. (sas)

