Jakarta (tutur.co.id) – Aspirin yang selama ini dikenal sebagai obat pereda nyeri ternyata memiliki manfaat yang jauh lebih besar. Dalam dunia medis, sangat jarang ada obat murah yang berpotensi mengubah strategi pencegahan kanker secara global.
Dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa aspirin dapat membantu mengurangi risiko kanker, terutama kanker usus. Bahkan, beberapa negara mulai mengubah kebijakan kesehatan mereka berdasarkan temuan ini. Hal ini membuat aspirin kembali menjadi sorotan di dunia medis.
Penelitian klinis menunjukkan bahwa konsumsi aspirin secara rutin dapat menurunkan risiko kanker pada kelompok tertentu. Dalam studi terhadap 861 pasien dengan Lynch Syndrome, kondisi genetik yang meningkatkan risiko kanker usus, konsumsi aspirin selama minimal dua tahun terbukti menurunkan risiko kanker kolorektal hingga hampir 50%.
Profesor John Burn dari Newcastle University menyatakan bahwa temuan ini menjadi bukti kuat peran aspirin dalam pencegahan kanker. Selain itu, penelitian lain juga menemukan bahwa aspirin dapat menghambat penyebaran sel kanker. Proses ini disebut metastasis, yaitu ketika kanker menyebar ke bagian tubuh lain.
Aspirin bekerja dengan memengaruhi sistem kekebalan tubuh sehingga lebih mudah mengenali dan melawan sel kanker. Ini menjadi salah satu alasan mengapa aspirin dianggap sebagai “senjata baru” dalam melawan kanker.
Menariknya, aspirin bukanlah obat baru. Sejarahnya sudah ada sejak lebih dari 4.000 tahun lalu, ketika ekstrak kulit pohon willow digunakan sebagai obat alami. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, senyawa tersebut dikembangkan menjadi aspirin modern yang lebih aman. Hal ini menunjukkan bahwa pengobatan tradisional bisa berkembang menjadi solusi medis modern.
Namun, penggunaan aspirin tidak boleh sembarangan. Obat ini memiliki efek samping seperti gangguan lambung, pendarahan internal, bahkan dalam kasus tertentu dapat meningkatkan risiko perdarahan pada otak. Oleh karena itu, para ahli menekankan bahwa konsumsi aspirin harus dilakukan di bawah pengawasan dokter. Tidak semua orang cocok menggunakannya sebagai pencegahan kanker.
Beberapa penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa dosis rendah sekitar 75-100 mg per hari sudah memberikan manfaat serupa dengan risiko efek samping yang lebih kecil. Temuan ini menjadi kabar baik, terutama bagi pasien dengan risiko tinggi. Beberapa negara bahkan mulai merekomendasikan penggunaan aspirin untuk kelompok tertentu. Ini menunjukkan bagaimana penelitian dapat langsung memengaruhi kebijakan kesehatan.
Meski begitu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan manfaat aspirin pada jenis kanker lainnya. Saat ini, penelitian masih difokuskan pada kanker usus dan beberapa jenis kanker tertentu. Para ilmuwan terus mencari jawaban agar aspirin bisa dimanfaatkan secara lebih luas.
Bagi masyarakat umum, informasi ini membuka wawasan baru tentang pentingnya pencegahan penyakit. Aspirin mungkin bukan solusi utama, tetapi bisa menjadi bagian dari strategi kesehatan yang lebih besar. Gaya hidup sehat tetap menjadi faktor utama dalam mencegah kanker.
Aspirin kini tak lagi sekadar pereda nyeri, tetapi mulai dipertimbangkan sebagai bagian dari pencegahan kanker. Namun, siapa yang benar-benar membutuhkan dan bagaimana penggunaannya tetap harus ditentukan oleh tenaga medis.

