Jakarta (tutur.co.id) – Tramadol belakangan kembali ramai dibahas setelah makin sering ditemukan kasus penyalahgunaan obat ini di kalangan remaja hingga dewasa muda. Banyak orang menganggap tramadol hanya sekadar obat pereda nyeri biasa yang aman dikonsumsi bebas.
Padahal, menurut berbagai penelitian medis, tramadol termasuk obat opioid yang tetap memiliki risiko ketergantungan, overdosis, hingga gangguan serius pada tubuh jika digunakan sembarangan atau tanpa resep dokter. Opioid sendiri punya definisi golongan obat pereda nyeri yang sangat kuat yang bekerja pada sistem saraf untuk meredakan rasa sakit sedang hingga berat.
Pertama Kali Dipasarkan di Jerman
Dilansir dari NCBI Bookshelf, tramadol pertama kali dipasarkan di Jerman pada tahun 1977 sebagai opioid yang dianggap “lebih aman” dibanding obat opioid lain. Namun seiring waktu, banyak negara mulai menyadari bahwa tramadol tetap bisa menyebabkan penyalahgunaan dan kecanduan.
Bahkan dalam laporan tersebut disebutkan bahwa penyalahgunaan tramadol sudah menjadi krisis di sejumlah negara Afrika dan Timur Tengah karena sering dipasarkan sebagai opioid yang lebih ringan dan aman.
Cara Kerja dan Efek Tramadol
Secara medis, tramadol bekerja dengan memengaruhi sistem saraf pusat untuk mengurangi rasa nyeri. Obat ini bekerja pada reseptor opioid di otak sekaligus memengaruhi serotonin dan norepinefrin dalam tubuh. Karena mekanismenya tersebut, pengguna bisa merasakan efek rileks, tenang, bahkan euforia tertentu yang membuat obat ini sering disalahgunakan di luar kebutuhan medis.
Masalahnya, banyak orang tak sadar bahwa tramadol tetap bisa menyebabkan ketergantungan fisik maupun psikologis. Dalam penelitian yang dimuat di PubMed, penggunaan tramadol jangka panjang diketahui dapat menimbulkan gejala withdrawal atau putus obat yang mirip opioid lain. Gejalanya mulai dari gelisah, tubuh nyeri, tremor, gangguan tidur, hingga kecemasan berat ketika konsumsi obat dihentikan mendadak.
Bahaya lain yang paling sering disorot dokter adalah risiko gangguan pernapasan dan kejang. NCBI menjelaskan bahwa overdosis tramadol dapat menyebabkan depresi sistem saraf pusat hingga gagal napas yang berujung kematian. Risiko kejang juga meningkat, terutama jika tramadol dikonsumsi dalam dosis tinggi atau dicampur dengan obat lain yang memengaruhi saraf dan serotonin.
Efek ‘Ngefly’
Sejumlah penelitian terbaru juga mulai mempertanyakan keamanan penggunaan tramadol untuk nyeri kronis. Studi yang dibahas dalam BMJ Evidence-Based Medicine menyebut manfaat tramadol untuk nyeri jangka panjang dinilai tidak terlalu signifikan dibanding risikonya. Penelitian tersebut menemukan adanya peningkatan efek samping seperti mual, pusing, gangguan jantung, hingga potensi ketergantungan opioid.
Meski begitu, tramadol sebenarnya tetap bisa digunakan secara aman jika sesuai pengawasan dokter dan dosis yang tepat. Masalah muncul ketika obat ini digunakan tanpa resep, dikonsumsi berlebihan, atau dicampur dengan alkohol dan zat lain. Karena itu, tenaga kesehatan mengingatkan bahwa tramadol bukan obat biasa yang bisa dikonsumsi sembarangan hanya demi efek tenang atau “fly”.

