Jakarta (tutur.co.id)- Tanpa disadari sebagian perempuan memiliki kebiasaan menumpuk barang. Kebiasaan menumpuk barang atau hoarding disorder didorong perilaku dan pengaruh lingkungan.
Kebiasaan menumpuk barang atau hoarding disorder masuk ke dalam kategori gangguan kesehatan mental. Kesulitan dalam melepas keterikatan terhadap suatu benda atau barang yang beraneka ragam.
Dikutip dari laman lifecycletransitions, ada enam perilaku dan pengaruh lingkungan dari perempuan yang menjadi alasan menumpuk barang atau hoarding disorder.
1. Berbelanja sebagai pereda nyeri emosional
Kebanyakan perempuan yang mengalami hoarding disorder memiliki barang baru rasanya menjadi obat emosional paling ampuh. Tindakan berbelanja bukan hanya untuk mendapatkan barang, tetapi ada efek kelegaan sementara dari kecemasan, kesepian, kesedihan, atau kekosongan.
Perasaan itu yang menyebabkan hampir mustahil menghentikan aktivitas berbelanja tanpa menyelesaikan permasalahan di baliknya.
2. Mendapati perasaan berada di dalam benda
Perempuan yang kerap menumpuk benda merasa memiliki tanggung jawab penuh atas kesejahteraan barang-barang mereka. Layaknya makhluk hidup yang memiliki kebutuhan dan perasaan.
Itu yang menciptakan hambatan dalam mulai untuk merapikan barang. Khawatir akan keberlangsungan barang atau benda yang akan dibuang. Timbul rasa bersalah bila harus meninggalkan barang-barang tersebut. Juga muncul perasaan berkhianat jika membuang barang yang selama ini telah disimpan.
3. Mempelajari kebiasaan menimbun yang tidak sehat dari keluarga
Studi dari jurnal penelitian NIH menyebutkan bahwa perilaku menumpuk barang atau menimbun barang sering kali merupakan keturunan di keluarga melalui genetik dan adaptasi terhadap perilaku yang dipelajari.
Anak yang tumbuh di keluarga yang terbiasa menumpuk barang terpapar pada kepercayaan, penilaian, dan perilaku bahwa barang atau benda membentuk sebuah hubungan tersendiri. Pesan warisan yang diperdengarkan terus-menerus seputar kelangkaan, kesiapan, tanggung jawab dan juga kenangan atas barang.
Sehingga di bawah sadar membentuk hubungan dengan cara menumpuknya.
4. Memperoleh penilaian atau kritikan soal ruang rumah
Perempuan sering mendapatkan kritikan tajam atas rumah tempat tinggal. Rumah yang berantakan pun menjadi penilaian kegagalan pribadi atas tuntutan yang mengakar pada peran wanita atas rumah.
Judgement inilah yang mendorong siklus kerusakan : rasa malu- mengisolasi diri- mengurangi kontak sosial- menimbun atau menumpuk barang- memperburuk kecemasan- dan mengulang menumpuk barang.
5. Ketidakmampuan melepas melepas kenangan
Kenangan melekat pada barang pemberian atau hadiah. Ini yang membuat perempuan tidak rela atau tidak tega membuangnya dan memilih untuk terus menumpuk semua barang pemberian.
Bisa berupa pakaian dengan kenangan tertentu, atau benda dari orang yang telah tiada, barang terkait memori masa kecil. Membuang semua barang akan memicu kesedihan dan merasa seolah-olah memutus hubungannya dengan kenangan.
Apakah Anda merasa related, dengan poin-poin di atas? Mulai sadari penuh perilaku-perilaku menumpuk barang di atas untuk kesehatan mental yang lebih baik.

