Jakarta (tutur.co.id) — Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengungkapkan bahwa pengeluaran masyarakat Indonesia untuk kebutuhan sandang—meliputi pakaian, alas kaki, dan tutup kepala—mencapai Rp35.000 per kapita per bulan. Data tersebut bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 281,6 juta jiwa, Faisol memperkirakan total belanja sandang masyarakat mencapai sekitar Rp10 triliun per bulan atau setara Rp119,8 triliun per tahun, mendekati Rp120 triliun.
“Dengan jumlah total penduduk Indonesia 281,6 juta jiwa, total belanja masyarakat untuk komoditas sandang diperkirakan mencapai Rp10 triliun per bulan atau setara Rp119,8 triliun per tahun,” ujar Faisol dalam rapat kerja VI DPR RI di Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026).
Peluang Besar Industri Tekstil Nasional
Faisol menilai angka tersebut mencerminkan besarnya potensi pasar domestik, khususnya bagi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Menurutnya, pasar dalam negeri dapat menjadi penopang utama pertumbuhan industri di tengah tantangan global dan tekanan impor.
Untuk menangkap peluang tersebut, Kementerian Perindustrian terus memperkuat sektor TPT melalui sejumlah langkah strategis, mulai dari pengawasan hingga kebijakan substitusi impor.
Perketat Pengawasan dan Penindakan
Langkah pertama yang dilakukan pemerintah adalah memperketat pengawasan dan penindakan terhadap masuknya produk tekstil ilegal. Pengawasan difokuskan pada pelabuhan resmi maupun jalur tidak resmi (jalur tikus) dengan melibatkan koordinasi lintas instansi, seperti Bea dan Cukai, TNI AL, Bakamla, serta Kepolisian.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penegakan hukum secara maksimal serta penguatan sistem pelaporan terpadu guna menekan peredaran produk ilegal yang merugikan industri dalam negeri.
Strategi Substitusi Impor
Dalam rangka substitusi impor, Kemenperin menyiapkan tiga langkah utama. Pertama, penguatan dan branding produk fashion industri kecil dan menengah (IKM) dalam negeri. Kedua, pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, serta ketiga, program hilirisasi dan modernisasi mesin produksi untuk meningkatkan daya saing industri.
Tak hanya dari sisi produksi, Faisol menambahkan pemerintah juga mendorong kampanye dan pemberdayaan konsumen melalui gerakan cinta produk lokal, edukasi mengenai dampak negatif produk ilegal dan impor berlebihan, serta pengembangan sentra fashion lokal di berbagai daerah.
“Dengan langkah-langkah ini, kami berharap industri tekstil nasional dapat memanfaatkan potensi pasar domestik yang sangat besar sekaligus memperkuat struktur industri dalam negeri,” pungkas Faisol.

