Jakarta (tutur.co.id) – Memasuki bulan Juni, banyak anak sekolah mulai menghadapi ujian akhir semester sekaligus rasa antusias menyambut liburan panjang. Namun di balik semangat itu, tidak sedikit anak yang justru mulai terlihat mudah lelah, sensitif, hingga kehilangan motivasi belajar. Kondisi ini bisa menjadi tanda burnout akademik yang kerap tidak disadari orang tua.
Burnout akademik merupakan kondisi kelelahan fisik dan mental akibat tekanan belajar yang berlangsung terus-menerus. Situasi ini bisa muncul ketika anak merasa terbebani oleh tugas sekolah, jadwal belajar padat, tuntutan nilai, hingga aktivitas tambahan lainnya.
Psikolog pendidikan dari berbagai penelitian menyebutkan bahwa burnout pada anak sekolah tidak selalu ditandai dengan malas belajar. Beberapa anak justru tetap belajar seperti biasa, tetapi terlihat lebih mudah marah, sulit fokus, atau cepat menangis karena hal kecil.
Berikut beberapa tanda burnout akademik pada anak yang sering diabaikan:
1. Mudah Emosi dan Sensitif
Anak menjadi lebih gampang marah, tersinggung, atau membantah ketika diajak belajar. Hal ini bisa menjadi bentuk kelelahan emosional akibat tekanan yang menumpuk.
2. Sulit Fokus saat Belajar
Meski duduk di meja belajar cukup lama, anak tampak sulit berkonsentrasi dan mudah terdistraksi. Mereka juga bisa lebih sering mengeluh pusing atau bosan.
3. Pola Tidur Berubah
Burnout dapat membuat anak tidur terlalu larut karena cemas menghadapi ujian atau justru tidur berlebihan karena tubuh merasa lelah terus-menerus.
4. Kehilangan Semangat pada Hal Favorit
Anak yang biasanya aktif bermain, berolahraga, atau bercerita bisa tiba-tiba tampak tidak tertarik melakukan aktivitas favoritnya.
5. Mengeluh Sakit Fisik
Keluhan seperti sakit kepala, nyeri perut, atau tubuh pegal tanpa penyebab medis jelas juga dapat berkaitan dengan stres akademik.
Orang tua perlu memahami bahwa menjelang akhir semester, anak tidak hanya membutuhkan dorongan belajar, tetapi juga dukungan emosional. Memberi jeda istirahat, mengurangi tekanan berlebihan soal nilai, hingga menyediakan waktu quality time sederhana dapat membantu anak merasa lebih tenang.
Alih-alih terus menanyakan hasil ujian, orang tua juga bisa mulai mengajak anak berbicara tentang perasaan mereka selama menjalani sekolah beberapa bulan terakhir. Pendekatan yang hangat sering kali membuat anak lebih nyaman dan tidak merasa menghadapi tekanan sendirian.
Setelah ujian selesai, liburan sekolah dapat dimanfaatkan sebagai momen pemulihan mental anak. Tidak harus selalu bepergian jauh, aktivitas sederhana bersama keluarga juga bisa membantu mengembalikan semangat dan energi anak sebelum memasuki semester berikutnya.

