Jakarta (tutur.co.id)- Hantavirus ternyata tidak hanya terdiri dari satu jenis virus saja. Di berbagai belahan dunia, terdapat sejumlah strain hantavirus dengan karakteristik, tingkat keparahan, hingga wilayah persebaran yang berbeda-beda.
Beberapa strain lebih banyak ditemukan di kawasan Asia, sementara lainnya dominan di Amerika maupun Eropa. Masing-masing juga memiliki reservoir hewan pengerat berbeda yang menjadi sumber utama penularan ke manusia.
Guru Besar dan Ahli Virologi Universitas Udayana, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Mahardika, menilai perhatian dunia terhadap hantavirus meningkat karena virus zoonosis memiliki potensi terus berevolusi.
“Dunia mulai menyadari bahwa banyak pandemi besar lahir dari virus yang pada awalnya dianggap terbatas dan lokal,” tulis I Gusti Ngurah Mahardika dalam artikel opini Hantavirus dan Bayang-Bayang Pandemi Baru.
Berikut empat strain hantavirus utama yang dikenal di dunia:
Sin Nombre Virus, Dominan di Amerika Utara
Sin Nombre Virus dikenal sebagai salah satu strain hantavirus utama di Amerika Utara, terutama di Amerika Serikat dan Kanada. Virus ini pertama kali mendapat perhatian luas setelah wabah pada 1993 di wilayah Four Corners, Amerika Serikat.
Reservoir utama virus ini adalah tikus rusa atau deer mouse. Penularan terjadi melalui paparan urine, feses, maupun debu yang terkontaminasi ekskreta hewan pengerat.
Sin Nombre Virus dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu gangguan pernapasan berat yang memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi.
I Gusti Ngurah Mahardika menilai ancaman zoonosis seperti hantavirus perlu dipantau serius karena kemampuan virus untuk beradaptasi selalu berkembang. “Banyak pandemi besar pada awalnya tampak kecil, lokal, dan tidak terlalu mengkhawatirkan,” tulisnya.
Andes Virus, Strain yang Bisa Menular Antar Manusia
Andes Virus banyak ditemukan di wilayah Amerika Selatan, terutama Argentina dan Chile. Strain ini menjadi perhatian khusus karena memiliki kemampuan penularan antarmanusia, sesuatu yang jarang ditemukan pada hantavirus lain.
“Andes virus menjadi perhatian besar karena terbukti mampu melakukan penularan antarmanusia,” ujar I Gusti Ngurah Mahardika. Meski transmisinya belum secepat influenza atau COVID-19, kemampuan tersebut membuat Andes Virus menjadi salah satu strain yang paling diwaspadai dalam epidemiologi modern.
Virus ini juga dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome dengan gejala berat pada sistem pernapasan.
Puumala Virus, Banyak Ditemukan di Eropa
Puumala Virus banyak tersebar di kawasan Eropa, khususnya Eropa Utara dan Tengah seperti Finlandia, Swedia, hingga Jerman.
Virus ini dibawa oleh bank vole atau tikus hutan kecil. Dibanding beberapa strain lain, Puumala Virus umumnya menyebabkan gejala yang lebih ringan, meski tetap dapat memicu gangguan ginjal.
Kasus infeksi Puumala Virus cukup rutin ditemukan di negara-negara Eropa yang memiliki empat musim dan populasi rodensia tinggi.
Menurut I Gusti Ngurah Mahardika, kondisi lingkungan dan interaksi manusia dengan hewan menjadi faktor penting dalam penyebaran hantavirus.
“Iklim, urbanisasi cepat, sanitasi yang belum merata, serta populasi tikus yang besar menciptakan lingkungan yang memungkinkan virus beredar secara diam-diam,” tulisnya.
Hantaan Virus, Banyak Ditemukan di Asia
Hantaan Virus dikenal sebagai strain hantavirus utama di kawasan Asia, terutama di China dan Korea. Virus ini pertama kali diidentifikasi di dekat Sungai Hantaan, Korea Selatan, yang kemudian menjadi asal namanya.
Strain ini dapat menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yaitu penyakit yang menyerang ginjal dan dapat memicu perdarahan.
Penularannya tetap berkaitan dengan paparan ekskreta tikus yang terinfeksi. Di sejumlah negara Asia, kasus Hantaan Virus menjadi perhatian kesehatan karena berkaitan dengan kepadatan penduduk dan lingkungan.
I Gusti Ngurah Mahardika mengingatkan bahwa ancaman terbesar hantavirus bisa muncul dari sirkulasi yang tidak terdeteksi.
“Dalam epidemiologi, fase senyap seperti ini justru sering menjadi bagian paling berbahaya karena virus berkembang di bawah radar pengawasan kesehatan,” tulisnya.
Karena itu, kewaspadaan terhadap hantavirus dinilai penting, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi kontak dengan hewan pengerat, hingga memperkuat pengawasan penyakit zoonosis di berbagai negara.

