Jakarta (tutur.co.id) — Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan pangan nasional pada 2026 berada dalam kondisi aman, dengan mayoritas kebutuhan konsumsi masyarakat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Hal ini tercermin dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 yang disusun bersama berbagai kementerian dan lembaga terkait.
Dari total 10 komoditas pangan pokok strategis, hanya sebagian kecil yang masih bergantung pada impor. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyebut komoditas tersebut terutama kedelai dan bawang putih, serta daging sapi dalam porsi terbatas.
“Kita hanya mengimpor dua atau tiga yang dominan. Kedelai dan bawang putih. Lalu daging sapi tapi tidak dominan,” ujar Ketut.
Di luar itu, sejumlah komoditas utama seperti beras, jagung, bawang merah, cabai, daging ayam ras, telur ayam ras, hingga gula diproyeksikan tidak memerlukan impor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik. Kondisi ini mencerminkan penguatan kapasitas produksi dalam negeri yang semakin stabil dalam beberapa tahun terakhir.
Untuk komoditas beras, Bapanas mencatat posisi yang sangat kuat. Stok awal 2026 diperkirakan mencapai sekitar 12,4 juta ton, ditambah proyeksi produksi tahunan sebesar 34,7 juta ton. Dengan kebutuhan konsumsi sekitar 31,1 juta ton, stok akhir tahun diproyeksikan masih berada di kisaran 16 juta ton.
Ketut menilai angka tersebut menunjukkan ketahanan pangan nasional yang cukup solid, bahkan memberikan ruang cadangan yang signifikan untuk memasuki tahun berikutnya. “Target kita di tahun 2026, kita akan punya carry over stock ke 2027 hingga 16 juta ton. Ini besar sekali,” katanya.
Pemerintah juga menegaskan keberpihakan terhadap petani melalui penugasan Perum Bulog untuk menyerap gabah hasil panen. Saat ini, cadangan beras yang dikelola Bulog telah melampaui 4 juta ton dan akan terus ditingkatkan melalui penyerapan domestik.
Menariknya, sejak 2025 stok beras Bulog sepenuhnya berasal dari produksi dalam negeri tanpa impor. Hal ini menjadi indikator penting bahwa produksi padi nasional mampu memenuhi kebutuhan cadangan pemerintah sekaligus menjaga stabilitas harga di pasar.
Selain beras, komoditas jagung pakan juga disebut telah mencapai swasembada. Indonesia bahkan telah menghentikan impor jagung pakan sejak 2025. Sementara itu, komoditas lain seperti daging ayam ras, telur ayam ras, cabai, dan bawang merah juga dinilai dalam kondisi kuat dengan dukungan produksi lokal.
“Kemudian kita juga punya cadangan jagung yang bagus. Jagung pakan kita sudah swasembada. Kemudian daging ayam kita kuat, telur kita kuat, cabai kita kuat, bawang merah kita kuat,” ujar Ketut.
Meski demikian, pemerintah tetap mendorong peningkatan produksi untuk komoditas yang masih bergantung pada impor. Upaya ini dilakukan melalui akselerasi program di sektor pertanian, termasuk penguatan produksi kedelai, bawang putih, hingga komoditas susu.
Ketut menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat kemandirian pangan nasional di tengah dinamika global yang tidak menentu.
“Kita sudah mulai produksi dan Kementerian Pertanian akan terus bergerak dengan target-target ke depan, termasuk penguatan kedelai, bawang putih, dan lainnya,” jelasnya.
Dengan kondisi stok yang dinilai kuat dan produksi yang terus ditingkatkan, Bapanas optimistis ketahanan pangan Indonesia pada 2026 tetap terjaga. Pemerintah pun berharap tren positif ini dapat berlanjut sehingga ketergantungan pada impor semakin berkurang di masa mendatang.

