Jakarta (tutur.co.id) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,92% atau naik 113,62 poin ke level 6.037,84 pada perdagangan Senin (13/7/2026). Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp12,1 triliun.
Berdasarkan riset harian Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), penguatan IHSG didorong aksi beli pada saham-saham unggulan setelah S&P Global Ratings kembali mempertahankan peringkat kredit Indonesia dengan prospek stabil. Sentimen tersebut meningkatkan optimisme investor terhadap ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
“IHSG ditutup menguat didukung aksi beli pada saham-saham unggulan setelah S&P menegaskan kembali peringkat kredit Indonesia dengan prospek stabil,” tulis tim riset KISI dalam laporan Market Wrap, Senin.
Kinerja IHSG bergerak berlawanan dengan mayoritas bursa Asia yang melemah akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak dan inflasi. Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah 0,28% ke level Rp18.105 per dolar AS.
Penguatan indeks dipimpin sektor bahan baku, energi, dan industri, sedangkan sektor konsumen non-siklikal dan kesehatan terkoreksi.
Saham energi menguat seiring kenaikan harga minyak dunia, antara lain BRPT (+8,02%), ENRG (+4,58%), PGAS(+4,43%), dan MEDC (+0,85%). Saham batu bara juga naik, dipimpin INDY (+3,98%), ITMG (+2,68%), HRUM(+2,66%), dan ADRO (+2,51%).
Dari saham berkapitalisasi besar, penguatan IHSG ditopang BMRI (+4,16%), BBRI (+2,86%), dan AMMN (+7,69%), sementara CTBN (-6,54%), BOGA (-5,84%), dan UNVR (-2,89%) menjadi penekan indeks.
KISI menilai pasar selanjutnya akan mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, serta musim laporan keuangan emiten yang akan menjadi katalis utama pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

