Jakarta (tutur.co.id) – Jaksa Agung, ST Burhanuddin menerima kedatangan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo beserta jajarannya di Gedung Utama Kejagung RI, Jakarta Selatan, Senin 13 Juli 2026.
Berdasarkan pantauan tutur.co.id, rombongan Kapolri beserta jajarannya tiba di Kejagung sekitar pukul 15.17 WIB, usai dikabarkan sebelumnya bertemu Panglima TNI Agus Subiyanto di Mabes TNI.
Dalam pertemuan tersebut Jaksa Agung menjelaskan bahwa kedua institusi penegak hukum kompak untuk menjalankan fungsinya dan tidak ada persaingan seperti isu yang berkembang di masyarakat menanggapi kasus mega korupsi mantan Jampidsus Febrie Adriansyah.
“Saya dengan Pak Kapolri, temen-temen jangan berpikir kami ini rival, kami ini adalah versus, tidak,” tegas Jaksa Agung Burhanuddin.
Dalam kesempatan tersebut, Burhanuddin menepis pertemuan dikaitkan lantaran anak buahnya ditetapkan jadi tersangka oleh Polri. Ia menjelaskan pertemuan keduanya membahas soal evaluasi penegakan hukum agar ke depannya lebih baik.
“Jangan berpikir karena ada hal-hal sesuatu kemarin, ini adalah silaturahmi yang biasa kami lakukan. Dan kami selalu berpikir bagaimana perbaikan ke depan lagi. Itulah yang tadi kami bicarakan,” tambahnya.
Hal senada juga disampaikan Kapolri, yang mengungkapkan bahwa kedua institusi itu akan kompak membangun kolaborasi untuk terciptanya penegakan hukum di Indonesia agar lebih baik lagi.
“Sinergitas dan kolaborasi, kemitraan antara dua institusi, Kejaksaan dan Kepolisian, ini tentunya diharapkan oleh masyarakat-masyarakat yang membutuhkan pelayanan di bidang hukum untuk betul-betul hukum bisa diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Sigit.
“Yang jelas, Kejaksaan dan Kepolisian adalah keluarga besar, dan kita akan terus menjaga agar keluarga besar ini terus terjaga soliditas dan sinergitas yang ada,” sambungnya.
Sekadar informasi, nama institusi Kejagung dan Polri menjadi sorotan usai terungkapnya mega korupsi yang melibatkan mantan Jampidsus Febrie Adriansyah.
Bahkan belakangan juga ramai anggapan bahwa kedua institusi penegak hukum itu menjadi rivalitas untuk memberantas korupsi sehingga timbulnya gesekan.

