Jakarta (tutur.co.id) — Phintraco Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak konsolidatif pada perdagangan Rabu (14/1/2026), di tengah masih kuatnya tekanan eksternal dan pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah.
Dalam riset hariannya, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak pada kisaran support 8.730, pivot 8.900, dan resistance 9.000. Selama indeks belum mampu ditutup di atas level psikologis 9.000, pergerakan IHSG diproyeksikan masih terbatas.
“IHSG hari ini diperkirakan masih berkonsolidasi pada kisaran 8.840–9.000, selama tidak ditutup di atas level 9.000,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Rabu (14/1/2026).
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup menguat 0,72% ke level 8.948 setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi. Secara teknikal, Phintraco Sekuritas mencermati adanya penyempitan histogram positif MACD, sementara indikator Stochastic RSI mulai bergerak turun mendekati area pivot, yang mengindikasikan potensi konsolidasi jangka pendek.
Meski demikian, Phintraco Sekuritas menilai koreksi masih tergolong sehat selama IHSG tidak ditutup di bawah level 8.730. Tekanan pasar juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang berlanjut ke level Rp16.877 per dolar AS di pasar spot, seiring penguatan indeks dolar AS dan melemahnya mayoritas mata uang kawasan Asia.
Dari sisi sentimen domestik, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian memastikan bahwa program mandatori campuran biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 40% (B40) pada bahan bakar solar akan direalisasikan pada tahun ini. Sementara itu, implementasi B50 masih dalam tahap kajian dan diharapkan dapat diterapkan pada Semester II-2026.
Phintraco Sekuritas menilai kebijakan tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi sektor perkebunan kelapa sawit. “Penerapan B40 dan rencana B50 diharapkan mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan mendukung pengembangan energi bersih, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap fundamental saham sektor CPO,” ujar Phintraco Sekuritas.
Dari eksternal, perhatian investor tertuju pada rilis data perdagangan China. Neraca perdagangan China pada Desember 2025 diperkirakan mencatat surplus sebesar US$105 miliar, sedikit menurun dibandingkan surplus US$111,68 miliar pada November 2025.
Sementara dari Amerika Serikat, pasar menantikan rilis indeks Producer Price Index (PPI) untuk periode Oktober dan November 2025, serta data penjualan ritel November 2025 yang diperkirakan tumbuh 0,3% secara bulanan (MoM), setelah pada bulan sebelumnya tercatat stagnan.
Seiring dengan kondisi tersebut, Phintraco Sekuritas merekomendasikan lima saham pilihan yang dinilai layak dikoleksi, yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), dan PT Indosat Tbk. (ISAT).

