Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak konsolidatif pada perdagangan Kamis (23/4/2026), setelah ditutup melemah 0,23% ke level 7.541,6 pada Rabu (22/4/2026).
Pergerakan IHSG masih cenderung mixed di tengah sentimen global yang variatif. Di satu sisi, perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran menjadi katalis positif karena meredakan konflik. Namun di sisi lain, kondisi tersebut justru memperpanjang ketidakpastian pasar.
Selain itu, penutupan Selat Hormuz yang berlarut-larut berpotensi menjaga harga minyak mentah tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Kondisi ini dapat meningkatkan biaya energi, sehingga membebani pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat.
Secara teknikal, IHSG belum mampu menembus level MA5 di kisaran 7.591. Hal ini seiring dengan histogram positif pada MACD yang mulai mengecil, serta indikator stochastic RSI yang telah berada di area overbought.
“Dengan kondisi tersebut, IHSG berpotensi bergerak konsolidatif dalam rentang 7.500–7.600 pada perdagangan Kamis (23/4/2026),” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75%. Sementara itu, suku bunga deposit facility tetap di 3,75% dan lending facility di 5,5%.
Kebijakan ini dinilai konsisten dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global. Di sisi lain, pertumbuhan kredit tercatat sebesar 9,49% secara tahunan (YoY) pada Maret 2026, meningkat dari 9,37% pada Februari 2026.
Untuk perdagangan hari ini, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang menarik untuk dicermati, yakni BBTN, PNLF, MIDI, ASII, dan RAJA.

