Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan penguatan dengan menguji level resistance 7.700 pada perdagangan Rabu (15/4/2026), di tengah sinyal teknikal yang mulai menunjukkan kondisi jenuh beli.
Pada perdagangan Selasa (14/4/2026), IHSG ditutup menguat 2,34% ke level 7.675,9. Kenaikan indeks ditopang oleh penguatan mayoritas bursa Asia, koreksi harga minyak mentah, serta harapan masih terbukanya ruang negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Saham-saham konglomerasi dan sektor perbankan menjadi penopang utama pergerakan indeks. Dari sisi sektoral, indeks infrastruktur mencatatkan kenaikan terbesar hingga 5,62%, mencerminkan meningkatnya minat investor pada saham berbasis proyek dan aset riil.
Secara teknikal, indikator MACD masih bergerak menguat, sementara Stochastic RSI telah memasuki area overbought. IHSG juga tercatat membentuk gap di level 7.527, yang menjadi salah satu area penting untuk dicermati pelaku pasar.
Phintraco Sekuritas menilai IHSG berpeluang menguji resistance 7.700. Jika mampu bertahan di atas level tersebut, indeks berpotensi melanjutkan penguatan menuju area MA50 di kisaran 7.800.
Meski demikian, potensi profit taking dalam jangka pendek mulai meningkat seiring posisi indikator yang telah berada di area jenuh beli. Kondisi ini membuka peluang terjadinya konsolidasi setelah reli tajam dalam beberapa hari terakhir.
Dari sisi global, sentimen pasar turut dipengaruhi koreksi harga minyak mentah. Hingga Selasa sore, harga minyak WTI turun sekitar 2% ke level US$96 per barel, sementara Brent terkoreksi 0,9% ke kisaran US$98 per barel.
Penurunan harga minyak dipicu proyeksi International Energy Agency (IEA) yang memperkirakan pelemahan permintaan global di tengah tingginya harga dan konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Bahkan, penurunan permintaan disebut berpotensi mendekati level saat pandemi Covid-19.
Selain itu, pasar juga merespons laporan terkait peluang dilanjutkannya perundingan antara AS dan Iran dalam waktu dekat, yang turut menekan harga energi.
Di dalam negeri, penguatan IHSG tidak sejalan dengan pergerakan nilai tukar rupiah. Pada Selasa (14/4/2026), rupiah ditutup melemah 0,09% ke level Rp17.110 per dolar AS, sekaligus menjadi posisi penutupan terlemah.
Pelemahan rupiah terjadi meskipun indeks dolar AS tengah mengalami koreksi. Kekhawatiran terhadap prospek ekonomi domestik dinilai masih menjadi faktor penekan terhadap mata uang rupiah.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk perdagangan Rabu (15/4/2026), yakni TOBA, ESSA, TINS, HRUM, dan ELSA.

