Roma (tutur.co.id) – Avip Priatna bersama Jakarata Concert Orchestra (JCO) dan Batavia Madrigal Singers (BMS) menutup rangkaian konser tur Eropa dengan tampil di Roma Italia. Konser penutup yang juga kebetulan tepat setahun sejak wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025 semakin membuat acara semakin spesial.
Atas undangan kolaborasi dengan organisasi berbasis di Vatikan, Scholas Occurrentes, konser ini mengambil tajuk “Pope Francis, A Legacy for Humanity”. Konser tersebut diselenggarakan di Auditorium Conciliazione.
Berbeda dari konser-konser sebelumnya di Ankara, Amsterdam, dan Basel, dalam konser ini Avip Priatna dan timnya menampilkan program lagu-lagu popular seperti Nella Fantasia, I have a dream, One God dan mashed song I Love You/What A Wonderful World.
Tampil bersama JCO dan BMS dalam konser tersebut adalah penyanyi Italia bernama Arisa dan musisi Inggris, Simon Kirke dari group band Bad Company. Selain menampilkan lagu-lagu popular, JCO dan BMS bersama solis Valentina Aman dan Farman Purnama, juga menampilkan lagu-lagu karya komposer Indonesia seperti Benggong, arransemen Ken Steven, serta Nusantara, karya Elwin Hendrijanto.
Konser tersebut juga memainkan beberapa film scoring karya Elwin Hendrijanto dari film dokumenter tentang Paus Fransiskus, berjudul Aldeas yang juga premier pada hari itu, sebelum konser berlangsung.
Di sepanjang konser yang berlangsung selama 90 menit itu, selain menikmati pertunjukan, para penonton yang memenuhi Auditorium Conciliazione juga disuguhkan kolaborasi multimedia yang berisi antara lain cuplikan video perjalanan Paus Fransiskus dan kegiatan-kegiatan Scholas Occurentes yang dilakukan di berbagai negara, termasuk di Indonesia.
Scholas Occurentes adalah sebuah organisasi internasional untuk pendidikan yang berbasis di Vatikan. Organisasi ini bertujuan untuk mempromosikan budaya perjumpaan (culture of encounter) diantara generasi muda dari berbagai latar belakang, agama, dan budaya untuk menciptakan perdamaian melalui pendidikan. Scholas Occurentes ini pertama kali diinisiasi oleh mendiang Paus Fransiskus pada tahun 2013. Organisasi ini menggunakan olahraga, seni, dan teknologi sebagai alat pendidikan untuk menghubungkan anak muda.Hadir di 190 negara dengan jaringan yang mencakup hampir 500.000 lembaga pendidikan.
Selain musik, sekitar 1500 penonton publik yang hadir juga menyimak kesaksian yang disampaikan oleh Happy Salma, pemain film sekaligus pendiri Yayasan Titimangsa. Happy Salma menceritakan bagaimana melalui perjumpaan, seni dan budaya membawa kebersamaan, perdamaian, dan persaudaraan.
“Saya bersyukur seluruh rangkaian tur ke Eropa berlangsung sukses. Terlebih di konser di Roma ini dimana kami dapat turut mendukung gerakan Scholas Occurentes dari mendiang Paus Fransiskus. Semoga melalui perjumpaan kami dengan banyak teman dan penonton di berbagai negara, kami dapat turut mempererat persaudaraan antar bangsa,” ujar Avip Priatna seusai konser.
Konser di Roma ini ditutup dengan lagu Indonesia Pusaka arransemen Renardi Effendi, dengan tambahan solis biola Giovani Biga, yang ditampilkan bersama dengan video rekaman kegiatan Paus Fransiskus di Indonesia serta kenangan audiensi special JCO danBMS dengan Paus Fransiskus di istana Vatikan pada tahun 2024. Penampilan puncak tersebut disambut dengan standing ovation dari seluruh penonton yang hadir.
Di penghujung konser ini, para penggerak Scholas Occurentes melakukan tradisi khas Paus Fransiskus yaitu penanaman pohon zaitun. Kegiatan tersebut dimaknai sebagai simbol perdamaian, dialog antar umat beragama serta pelestarian lingkungan. Pohon zaitun secara universal dipahami sebagai lambangkan perdamaian, kebijaksanaan, dan harmoni.
Scholas Occurentes mengundang Ibu Giok Hartono untuk naik keatas panggung untuk secara simbolis melakukan penanaman pohon zaitun. Ibu Giok Hartono adalah salah satu filantropis yang selama ini banyak memberikan dukungan untuk kegiatan Scholas Occurantes termasuk penyelenggaraan konser di Roma.

