Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak terbatas atau sideways pada perdagangan Jumat (27/3/2026), setelah mengalami koreksi cukup dalam pada sesi sebelumnya. Tekanan pasar dinilai masih berasal dari kombinasi sentimen global dan aksi ambil untung investor.
Pada penutupan Kamis (26/3/2026), IHSG melemah 1,89% ke level 7.164, berbalik arah setelah mencatatkan penguatan signifikan sehari sebelumnya. Menurut Phintraco Sekuritas, pelemahan tersebut dipicu oleh aksi profit taking di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, khususnya terkait dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Pasar global cenderung berhati-hati setelah muncul pernyataan yang saling bertolak belakang dalam 48 jam terakhir. Pihak AS menyebut perundingan perdamaian telah berlangsung, sementara Iran membantah adanya negosiasi langsung. Iran juga menegaskan bahwa pertukaran proposal melalui mediator tidak dapat diartikan sebagai proses negosiasi formal. Kondisi ini membuat pelaku pasar kesulitan membaca arah kebijakan dan meningkatkan sikap wait and see.
Sejalan dengan itu, bursa Asia ditutup bervariasi dan bursa Eropa dibuka melemah. Menariknya, di tengah tekanan global, nilai tukar rupiah justru ditutup menguat ke level Rp16.904 per dolar AS, berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang Asia lainnya.
Dari sisi sektoral, tekanan terbesar terjadi pada sektor energi yang terkoreksi paling dalam, sementara sektor transportasi menjadi satu-satunya yang mencatatkan penguatan. Hal ini mencerminkan rotasi sektor yang masih berlangsung di tengah ketidakpastian pasar.
Secara teknikal, meskipun IHSG terkoreksi, sejumlah indikator mulai menunjukkan sinyal stabilisasi. Histogram negatif MACD tercatat menyempit, sementara Stochastic RSI bergerak di area pivot, mengindikasikan potensi konsolidasi. Selain itu, IHSG masih mampu bertahan di atas MA5, yang menjadi sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda.
“Diperkirakan IHSG bergerak sideways pada kisaran level 7.050–7.250,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari langkah pemerintah yang menambah penempatan dana di sektor perbankan sebesar Rp100 triliun untuk menjaga likuiditas di tengah kenaikan yield obligasi negara. Dengan tambahan tersebut, total dana pemerintah yang ditempatkan di perbankan kini mencapai sekitar Rp300 triliun. Skema penempatan ini juga bersifat fleksibel dan dapat ditarik sewaktu-waktu, sehingga memberikan ruang stabilisasi bagi sistem keuangan.
Dalam kondisi pasar yang cenderung sideways, pelaku pasar disarankan untuk lebih selektif dalam memilih saham dan memanfaatkan momentum trading jangka pendek. Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati, antara lain JPFA, MDKA, UNTR, MAIN, dan AADI.

