Jakarta (tutur.co.id)— Konsultan dan Perencana Keuangan Elvi Diana menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu dipicu kombinasi faktor teknis dan fundamental, terutama momentum pembagian dividen oleh sejumlah emiten.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG pada periode 27–30 April 2026 terkoreksi 2,42% ke level 6.956,80, turun dari posisi 7.129,49 pada pekan sebelumnya.
“Pembagian dividen sering kali menyebabkan penurunan harga saham secara mekanis pada tanggal ex-dividend atau ex-date, yakni sebesar nilai tunai dividen yang dibagikan,” ujar Elvi, seperti dilansir Antara.
Ia menjelaskan, kondisi ini terjadi karena kas perusahaan berkurang dan investor baru yang membeli saham setelah ex-date tidak lagi berhak atas dividen. Situasi tersebut kerap memicu aksi ambil untung (profit taking) sekaligus penyesuaian harga pasar yang menekan indeks.
Selain faktor teknis, Elvi menambahkan sentimen global juga ikut memengaruhi pergerakan pasar, meskipun faktor domestik tetap dominan. Ia pun mendorong Otoritas Jasa Keuangan untuk mengambil langkah antisipatif.
“OJK perlu memastikan bahwa pelaku pasar memahami bahwa penurunan harga pada ex-date merupakan fenomena yang bersifat teknis, bukan semata-mata mencerminkan penurunan kinerja fundamental emiten,” jelasnya.
Menurut dia, penguatan literasi investor serta komunikasi publik yang jelas penting untuk meredam potensi kepanikan, khususnya di kalangan investor ritel. Pengawasan terhadap volatilitas juga perlu diperketat agar stabilitas pasar tetap terjaga.
Pada perdagangan Selasa pagi, IHSG sempat dibuka melemah tipis ke 6.968,57. Namun, indeks berbalik menguat pada penutupan sesi sore, naik 85,16 poin atau 1,22% ke level 7.057,11, ditopang oleh penguatan saham sektor perbankan dan konglomerasi.

