Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan dinamika kebijakan domestik. Meski sempat menguat tipis, pergerakan rupiah dinilai rentan kembali ke zona merah dalam jangka pendek.
Pada penutupan perdagangan Kamis (26/3/2026), rupiah tercatat menguat 7 poin ke level Rp16.904 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat menguat hingga 15 poin dari posisi penutupan Rp16.895 per dolar AS. Namun, penguatan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengubah arah tren jangka pendek yang masih fluktuatif.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp16.900 hingga Rp16.940 per dolar AS dengan kecenderungan melemah. “Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.900 – Rp16.940,” ujarnya dalam keterangan, Kamis.
Menurut Ibrahim, sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan rupiah, terutama perkembangan konflik di Timur Tengah. Pasar global disebut cenderung berhati-hati setelah Iran secara terbuka membantah adanya negosiasi langsung dengan Amerika Serikat, yang memicu ketidakpastian baru di pasar keuangan.
“Investor juga mengamati dengan cermat sinyal dari Washington, di mana para pejabat telah memperingatkan akan adanya tindakan yang lebih keras jika Iran tidak terlibat secara konstruktif,” kata Ibrahim. Ia menambahkan, minimnya kejelasan arah kebijakan membuat pelaku pasar cenderung wait and see, sementara pergerakan harga minyak global juga masih cenderung lesu.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi ketidakpastian kebijakan energi, khususnya terkait harga bahan bakar minyak (BBM). Meski pemerintah memastikan belum ada rencana penyesuaian harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat karena kondisi APBN masih cukup kuat, sentimen tersebut belum mampu memberikan dorongan signifikan bagi penguatan rupiah.
“Fluktuasi harga minyak dunia belum mencapai titik yang membahayakan postur anggaran, sehingga kenaikan harga BBM belum masuk radar kebijakan pemerintah,” jelasnya.
Kendati demikian, kombinasi antara faktor global dan domestik membuat prospek rupiah tetap rapuh. Dalam kondisi seperti ini, stabilitas nilai tukar dinilai sangat bergantung pada respons kebijakan yang adaptif serta kemampuan menjaga kepercayaan pasar. Pelaku pasar pun diimbau untuk tetap mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan ekonomi ke depan sebagai penentu utama pergerakan rupiah.

