Teheran (tutur.co.id) – Amerika Serikat melakukan serangan udara kesembilan berturut-turut terhadap Iran setelah kematian tiga anggota militer AS di Yordania dan Irak. Militer AS mengatakan pada Senin ini telah menyelesaikan serangan udara kesembilan berturut-turut terhadap Iran, menargetkan infrastruktur militer dan situs-situs strategis di seluruh Iran.
Dalam sebuah unggahan di X, Komando Pusat AS mengatakan bahwa mereka menargetkan pusat komando militer Iran, pertahanan udara dan situs pengawasan pantai, kemampuan maritim, situs peluncuran rudal dan drone, dan jaringan komunikasi. Serangan terbaru ini terjadi setelah Washington mengumumkan kematian tiga anggota militer Amerika.
Diberiktan sebelumnya, dua orang tewas selama serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania, dan satu anggota militer lainnya tewas di Irak pada Sabtu kemarin lewat serangan drone. Dan Sembilan serangan beruntun ke wilayah Iran itu secara terang-terangan diakui Presiden AS, sebagai bentuk penghormatan untuk menghormati ketiga ‘patriot’ tersebut.
“Kita lihat apa yang terjadi, tetapi kita akan menyerang mereka dengan sangat keras lagi malam ini,” kata Presiden AS Donald Trump kepada wartawan setelah kembali ke Washington usai final Piala Dunia, Senin 20 Juli 2026.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan pada hari Senin ini juga telah melancarkan serangan mendada” terhadap pusat komando “musuh” di Suriah. Tak hanya itu, Iran juga terus menyasar beberapa basis militer AS yang berada di negara-negara Teluk, yang terbaru ke wilayah Kuwait dan Bahrain.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pada hari Minggu bahwa Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar. Karena itu Rubio kembali mendesak negara-negara lain untuk meningkatkan tekanan dan berbagi beban untuk melindungi pelayaran global dari ancaman Iran.
“Jelas bahwa Iran, setidaknya beberapa orang di Iran, ingin mengendalikan selat tersebut dan menjadikannya sebagai alat tawar-menawar terhadap dunia,” kata Rubio kepada media sebelum berangkat ke Filipina untuk pertemuan para menteri luar negeri dengan Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN).
Lalu lintas di selat tersebut sekali lagi sebagian besar terhenti di tengah meningkatnya pertempuran, mendorong harga minyak mentah Brent di atas $90 per barel pada hari Senin. Permusuhan yang kembali memanas meletus meskipun ada gencatan senjata sementara setelah Iran menyerang kapal-kapal yang melintasi jalur air strategis tersebut.
“Amerika Serikat akan melakukan dan terus melakukan apa yang perlu dilakukan untuk melindungi pelayaran global, tetapi negara-negara lain perlu mulai meningkatkan peran dan memberikan, baik itu perangkat keras atau keuangan, untuk membantu menanggung beban tersebut,” tambah Rubio.
Menteri Luar Negeri mengatakan Washington tetap terbuka untuk diplomasi, tetapi kesepakatan itu harus “nyata” dan yang “bersedia dipatuhi” oleh Iran.
“Mereka tidak bisa memiliki nota kesepahaman yang berlaku jika mereka melanggar ketentuan-ketentuannya. Amerika Serikat selalu terbuka untuk solusi diplomatik. Kami telah mencoba berkali-kali dengan Iran, dan kami akan terus mencoba,” kata Rubio.
Pada hari Sabtu, pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, memperingatkan akan adanya “pelajaran yang tak terlupakan” jika Amerika Serikat terus menyerang Republik Islam, seperti yang dilaporkan di Televisi Pemerintah.
Khamenei, yang belum terlihat di depan umum sejak perang dimulai, dalam sebuah pernyataan yang dibacakan di televisi pemerintah, menyebut tanda tangan Presiden AS Donald Trump pada kesepakatan gencatan senjata sementara sebagai sesuatu yang tidak berharga dan tidak sah lagi.
Komentarnya muncul beberapa jam setelah seorang negosiator mengatakan Teheran menangguhkan komitmennya terhadap perjanjian tersebut.
Dalam seminggu terakhir, Trump mengancam akan menargetkan pembangkit listrik dan jembatan untuk mencoba memaksa Iran melonggarkan cengkeramannya. Washington juga telah memberlakukan kembali blokade angkatan laut di pelabuhan Iran untuk menghentikan pengiriman minyak mentah.
Media pemerintah IRNA mengatakan pabrik desalinasi Bonji hancur, memutus pasokan air untuk sekitar 10.000 orang, dan bahwa pabrik desalinasi di Pulau Qeshm yang strategis di dalam selat mengalami kerusakan.
Dilaporkan bahwa tiga jembatan terkena serangan pada hari Sabtu, termasuk satu di jalur menuju Bandar Abbas, pelabuhan utama Iran yang terletak di dekat bagian selat yang paling sempit.

