Manchester (Tutur.co.id) – Wacana perubahan kepemilikan Manchester United kembali mencuat setelah muncul laporan bahwa sebagian anggota keluarga Glazer mulai mempertimbangkan penjualan saham mereka di klub. Namun, peluang masuknya kembali kelompok investor Qatar yang dipimpin Sheikh Jassim bin Hamad Al Thani disebut sangat kecil.
Konsorsium asal Qatar tersebut sebelumnya menjadi salah satu kandidat kuat dalam proses pengambilalihan Manchester United pada 2023. Saat itu, Sheikh Jassim mengajukan tawaran untuk membeli seluruh saham klub yang bermarkas di Old Trafford tersebut, tetapi negosiasi gagal mencapai kesepakatan.
Sebaliknya, pengusaha Inggris Sir Jim Ratcliffe melalui perusahaan INEOS berhasil memperoleh kepemilikan sebagian saham Manchester United melalui transaksi senilai sekitar 1,3 miliar poundsterling.
Kini, isu kepemilikan klub kembali menjadi perhatian setelah Bloomberg melaporkan bahwa beberapa anggota keluarga Glazer terbuka terhadap kemungkinan menjual saham mereka. Mereka bahkan disebut berupaya meyakinkan anggota keluarga lainnya untuk mengambil langkah serupa.
Laporan tersebut memunculkan spekulasi mengenai calon investor yang berpotensi masuk. Nama Sheikh Jassim kembali dikaitkan dengan Manchester United, mengingat ketertarikannya yang besar pada proses akuisisi sebelumnya.
Namun, menurut laporan Mail Online, peluang munculnya tawaran baru dari kelompok investor Qatar dinilai “sangat tidak mungkin”. Sumber tersebut menyebut pihak Sheikh Jassim masih menyimpan kekecewaan mendalam terhadap proses negosiasi yang berlangsung pada 2023.
Dalam proposal yang diajukan saat itu, Sheikh Jassim menjanjikan transformasi besar bagi Manchester United, baik dari sisi prestasi olahraga maupun pengembangan infrastruktur klub.
“Dalam penawaran ini, kami berencana mengembalikan klub ke masa kejayaannya, baik di dalam maupun luar lapangan. Yang terpenting, kami ingin menempatkan suporter kembali sebagai pusat dari Manchester United Football Club,” bunyi pernyataan Sheikh Jassim saat itu.
Meski demikian, rencana tersebut tidak pernah terealisasi. Pada 2024, perwakilan kelompok investor Qatar mengungkapkan kekecewaan mereka atas proses negosiasi yang dinilai tidak konsisten.
“Dalam situasi ideal, mungkin kami bisa saja membayar sedikit lebih mahal untuk menyelesaikan transaksi itu. Tetapi, kami sudah melakukan hal tersebut berkali-kali sebelumnya. Kami merasa sedang dipermainkan dan syarat-syarat yang ditetapkan terus berubah. Kami merasa sudah memberikan lebih dari yang seharusnya.”
Pernyataan tersebut memperkuat anggapan bahwa pihak Sheikh Jassim tidak memiliki minat untuk kembali terlibat dalam proses pembelian Manchester United apabila klub kembali dibuka untuk investor baru.
Sementara itu, kepemimpinan Sir Jim Ratcliffe di Manchester United masih menuai beragam respons dari kalangan suporter. Sejumlah langkah efisiensi yang diterapkan, termasuk pengurangan jumlah karyawan, dinilai berhasil membantu memperbaiki kondisi keuangan klub.
Namun, kebijakan tersebut juga memicu kritik dari sebagian pendukung yang menilai perubahan itu belum diiringi peningkatan signifikan dalam performa tim di lapangan.
Selain persoalan finansial, ketidakstabilan di sektor teknis, termasuk pergantian pelatih dalam beberapa musim terakhir, turut menambah keresahan suporter yang masih menantikan kembalinya Manchester United sebagai penantang utama gelar di kompetisi domestik maupun Eropa.

