Jakarta (tutur.co.id) – Pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2026 menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok antar negara. Ada negara yang melaju cepat, tapi ada juga yang justru melambat karena tekanan global. Kondisi ini dipengaruhi oleh konflik energi, inflasi, dan ketidakpastian ekonomi dunia.
Dilansir dari International Monetary Fund (IMF), pertumbuhan ekonomi global diperkirakan berada di kisaran 3,1% pada 2026. Angka ini lebih rendah dibanding tahun sebelumnya karena dampak konflik geopolitik dan kenaikan harga energi. Situasi ini membuat banyak negara harus menyesuaikan kebijakan ekonominya.
Negara dengan pertumbuhan tertinggi masih didominasi oleh negara berkembang. India menjadi salah satu yang paling menonjol dengan pertumbuhan sekitar 7,3% – 7,6% pada tahun fiscal 2026, menjadikannya ekonomi besar dengan laju tercepat. Selain itu, Vietnam juga termasuk yang tinggi, bahkan diproyeksikan mencapai sekitar 7% pada 2026.
Sementara itu, negara maju justru tumbuh lebih lambat. Amerika Serikat diperkirakan berada di kisaran sekitar 2% hingga 2,3%, sedangkan kawasan Eropa hanya sekitar 1% saja. Jepang bahkan termasuk yang paling rendah dengan pertumbuhan di bawah 1%, menunjukkan perlambatan ekonomi di negara maju.
Indonesia sendiri berada di posisi yang cukup stabil dibanding banyak negara lain. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5% pada 2026, lebih tinggi dari rata-rata global. Bahkan secara regional, Indonesia masih lebih kuat dibanding beberapa negara seperti China yang diperkirakan tumbuh sekitar 4,4% hingga 4,5%.
Kalau dilihat dari performa terbaru, ekonomi Indonesia bahkan sempat menunjukkan peningkatan signifikan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa Indonesia memimpin pertumbuhan ekonomi di antara negara-negara G-20 pada kuartal I-2026 dengan angka 5,61%. Pencapaian ini menempatkan posisi Indonesia di atas negara-negara besar seperti Tiongkok, Singapura, dan Amerika Serikat.
Secara keseluruhan, peta ekonomi dunia saat ini menunjukkan bahwa negara berkembang masih menjadi motor pertumbuhan global. Negara maju cenderung melambat karena tekanan struktural dan inflasi. Dengan posisi di kisaran 5%, Indonesia bisa dibilang berada di “kelas menengah atas” dalam pertumbuhan ekonomi global dan masih cukup kompetitif di tengah ketidakpastian dunia.

