Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah sempat menembus level tertinggi sepanjang sejarah di kisaran Rp17.300, memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas mata uang domestik.
Ekonom Senior dan Praktisi Perbankan, Ryan Kiryanto, menegaskan bahwa upaya stabilisasi rupiah tidak bisa hanya dibebankan kepada Bank Indonesia semata.
Menurutnya, diperlukan sinergi lintas otoritas untuk meredam gejolak nilai tukar yang semakin tinggi.
“Stabilisasi nilai tukar rupiah, BI tidak bisa bekerja sendiri. BI sudah mengerjakan tugasnya, tinggal otoritas lain yang mengerjakannya,” ujar Ryan dalam FGD Bank Indonesia di Bandung, Jumat (24/4/2026).
Ia menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah dan berbagai otoritas terkait untuk memperkuat kepercayaan pasar terhadap rupiah.
Dengan koordinasi kebijakan yang solid, pelaku pasar diharapkan kembali yakin terhadap fundamental ekonomi Indonesia sehingga tekanan terhadap rupiah dapat mereda secara bertahap.
“Nggak bisa kerja sendiri. Harus ada ruang untuk pemerintah atau otoritas lain berperan sesuai tugasnya. Orkestrasi ini penting untuk meng-confidence market agar rupiah kembali diminati,” jelasnya.
Ryan menjelaskan, penguatan dolar AS saat ini pada dasarnya dipicu oleh meningkatnya permintaan terhadap mata uang tersebut di tengah ketidakpastian global.
Sebaliknya, pelemahan rupiah mencerminkan turunnya kepercayaan pasar, sehingga investor cenderung beralih ke dolar AS sebagai aset aman.
“Dolar AS menguat karena banyak yang beli dolar. Artinya, kepercayaan terhadap rupiah menurun. Karena itu, perlu upaya ekstra untuk meyakinkan pasar bahwa kebijakan pemerintah dan implementasinya berjalan sesuai arah,” tegasnya.
Ia menambahkan, konsistensi kebijakan dan eksekusi yang tepat menjadi kunci utama dalam mengembalikan stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global yang masih tinggi.

