Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup anjlok 249,1 poin atau 3,38% ke level 7.129,4 pada perdagangan Jumat (24/4/2026), dan diperkirakan masih berpotensi melemah hingga menguji level psikologis 7.000 pada awal pekan depan, Senin (27/4/2026).
Tekanan pasar yang terjadi hari ini mencerminkan kombinasi sentimen global dan domestik yang belum mereda, mulai dari lonjakan harga minyak hingga ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Di tengah kejatuhan IHSG, sejumlah saham justru mencatatkan lonjakan tajam dan memberikan cuan besar bagi investor, dengan kenaikan harga mencapai 12% hingga 34% dalam sehari.
Nilai transaksi di bursa mencapai Rp24,3 triliun dengan volume perdagangan 44,7 miliar saham dan frekuensi 2,6 juta kali transaksi. Sebanyak 701 saham turun, hanya 92 saham menguat, dan 166 saham stagnan—menandakan tekanan jual yang sangat dominan.
Seluruh sektor saham kompak melemah. Sektor barang konsumen primer memimpin penurunan sebesar 4,27%, diikuti sektor energi 4,22%, infrastruktur 4,08%, properti 3,89%, dan perindustrian 3,47%. Sektor lainnya seperti transportasi, teknologi, keuangan, hingga kesehatan juga turut terkoreksi.
Menurut Pilarmas Investindo Sekuritas, pelemahan IHSG tidak terlepas dari tekanan global, terutama kenaikan harga minyak dunia akibat mandeknya negosiasi Amerika Serikat dan Iran serta gangguan distribusi energi di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global dan potensi perlambatan ekonomi dunia.
Dari dalam negeri, sentimen negatif juga datang dari Fitch Ratings yang menurunkan outlook kredit empat bank besar Indonesia menjadi negatif, yakni BMRI, BBRI, BBCA, dan BBNI.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah disebut telah mengamankan pasokan 150 juta barel minyak dari Rusia sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional.
Meski pasar tertekan, sejumlah saham mencuri perhatian dengan kenaikan signifikan. PT Prashida Aneka Niaga Tbk (PSDN) melesat 34,46% ke Rp199, diikuti PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA) naik 24,46% ke Rp865, serta PT Berlina Tbk (BRNA) menguat 24,41% ke Rp790.
Selain itu, PT Citatah Tbk (CTTH) melonjak 23,85% ke Rp161 dan PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) naik 12,5% ke Rp2.160.
Sebaliknya, tekanan jual menyeret sejumlah saham ke penurunan tajam, seperti PT Ateliers Mecaniques D’Indonesie Tbk (AMIN) yang turun 15% ke Rp204, PT Sekar Bumi Tbk (SKBM) melemah 15% ke Rp680, serta PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) jatuh 14,95% ke Rp1.650.
Penurunan juga terjadi pada PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk (KRYA) yang turun 14,94% ke Rp74 dan PT Harapan Duta Pertiwi Tbk (HOPE) yang melemah 14,93% ke Rp228.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menilai IHSG telah breakdown dari level MA20, dengan histogram MACD yang menyempit dan berpotensi membentuk death cross.
“Terdapat gap down IHSG di sekitar level 7.022, sehingga indeks berpotensi menguji level psikologis 7.000 pada pekan depan,” tulis Phintraco Sekuritas.
Selain faktor teknikal, sentimen global juga akan menjadi penentu arah pasar pada awal pekan depan. Investor akan mencermati sejumlah agenda penting, seperti pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ), serta rilis data ekonomi utama dari Amerika Serikat dan Eropa.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham untuk dicermati pada perdagangan Senin, antara lain ADMR, ADRO, BFIN, ISAT, ULTJ, dan SRTG.

